
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Penelitian & Pengembangan Paguyuban Pasundan (Landasan dan Motivasi Lahirnya Tasawuf, dalam buku Afeksi Islam)
WWW.PASJABAR.COM – Ajaran-ajaran tasawuf lebih berorientasi pada aspek inner (jiwa terdalam). Ajaran ini mengarahkan kehidupan manusia kepada cara hidup yang mengutamakan rasa. Kultur spiritualitas ini merupakan cara perilaku individu yang terbaik dalam mengontrol diri, kesetiaan, dan realisasi kehadiran Tuhan dalam segala perilakunya. Karena itu, tujuan terpenting dalam tasawuf adalah memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan sehingga merasa dan sadar bahwa dirinya berada di hadirat Tuhan.
Keberadaan di hadirat Tuhan itu dirasakan oleh orang sufi sebagai kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki.
Semua ulama sufi sependapat bahwa satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan seseorang ke hadirat Allah adalah melalui kesucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan kebersihan hati (qalbun salim). Untuk mencapai jiwa yang suci dan hati yang bersih itu, perlu sebuah proses tarbiyah (pendidikan) dan riyadhah (latihan) mental yang panjang. Karena itu, pada tahap awal, teori dan amalan tasawuf selalu diformulasikan kepada pengaturan sikap mental dan pendisiplinan tingkah laku yang ketat.
Untuk bisa berada di hadirat keagungan Allah, sekaligus untuk mencapai kebahagiaan yang optimum, manusia harus mengidentifikasi eksistensi dirinya dengan ciri-ciri ketuhanan. Proses yang ditempuh adalah pensucian jiwa-raga. Tahap awal dari proses ini adalah pembentukan pribadi yang bermoral dan berakhlak mulia sehingga ia mencapai ma’rifatun nafs (pengetahuan tentang diri). Pengetahuan inilah yang merupakan tujuan akhir dari ajaran tasawuf. Bukankah orang yang mengetahui diri akan mengetahui Tuhannya (ma’rifat): “Man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu”.
Kepustakaan tasawuf menyajikan berbagai konsep tentang proses perjalanan menuju ma’rifat kepada Allah.
Dunia tasawuf mengenal trilogi konsep yang meliputi takhalli, tahalli, dan tajalli.
a. Takhalli (pengosongan), yaitu usaha pengosongan diri dari sikap ketergantungan terhadap kelezatan duniawi. Proses ini dapat dicapai dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam segala bentuknya dan membersihkan diri dari segala sikap serta perilaku yang tercela dan terburuk. Dalam istilah tasawuf, bentuk perilaku ini disebut al-akhlag al-madzmumah (akhlak tercela) dan al-akhlag as-sayyiah (akhlak buruk). Usaha untuk membersihkan diri dari sikap dan perilaku yang tercela dan buruk itu, oleh orang-orang sufi, dianggap sebagai perjuangan besar yang memerlukan kesungguhan tekad dan ikhtiar. Karena itu, proses ini juga disebut mujahadah, yang berarti usaha penuh kesungguhan dan keuletan. Rasulullah saw. pernah menyebutnya sebagai jihad al-akbar, perjuangan terbesar.
b. Tahalli (mengisi atau menghiasi), yakni usaha menghiasi diri dengan sifat, sikap, dan perbuatan yang terpuji dan luhur. Dalam tasawuf, perilaku tersebut disebut al-akhlag al-mahmudah (perilaku terpuji) dan al-akhlag al-hasanah (akhlak yang luhur). Jadi, seorang sufi akan berusaha agar dalam setiap gerak dan perilakunya selalu berjalan di atas ketentuan atau kewajiban agama, baik kewajiban yang bersifat lahiriyah, seperti salat, puasa, zakat, dan haji, maupun kewajiban yang bersifat batiniyah, seperti ikhlas, sabar, rida, dan rendah hati.
c. Tajalli (terbuka atau tersingkap), yaitu terbukanya hijab atau dinding sehingga mata hati seseorang mampu menyaksikan kehadiran Tuhan. Jadi, tajalli merupakan penampakan diri Tuhan yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang serba terbatas. Keadaan ini juga disebutkan sebagai tingkat musyahadah, yaitu penyaksian secara haq al-yaqin atas wujud Tuhan.
Jika seseorang telah melalui dengan sempurna konsep trilogi (takhalli, tahalli, dan tajalli) tersebut, ia akan sampai kepada tingkatan ma’rifatullah dan akan merasakan kehadiran-Nya dalam kehidupan. Dalam istilah tasawuf disebut fana’u ‘ala baqa’ihi wa ghayatuhu ‘ala hudlurihi, lenyap dalam sifat keabadian Allah dan melebur dalam kehadiran-Nya. (han)







