CIMAHI, WWW.PASJABAR.COM – Pawai ogoh-ogoh meriahkan Cimahi dua hari menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026. Beragam ogoh-ogoh diarak menyusuri jalan raya dan menjadi tontonan warga, meski berlangsung di tengah suasana bulan Ramadan.
Pawai yang digelar umat Hindu pada Selasa sore ini menampilkan patung-patung khas Bali dengan berbagai bentuk dan ukuran. Dua ogoh-ogoh berukuran raksasa menjadi pusat perhatian warga dan pengendara yang melintas.
Arak-arakan dimulai dari halaman Pusat Kesenjataan dan Artileri Pertahanan Udara, kemudian melintasi Jalan Sriwijaya dan Jalan Gatot Subroto sebelum kembali ke titik awal. Sepanjang rute, masyarakat tampak antusias menyaksikan kemeriahan pawai tersebut.
Nuansa Bali Kental dan Simbol Toleransi
Kemeriahan pawai semakin terasa dengan iringan musik tradisional serta peserta yang mengenakan pakaian adat Bali. Nuansa budaya Pulau Dewata pun terasa kental di tengah Kota Cimahi.
Salah seorang warga Hindu Cimahi, Gusti Ayu Eka, mengaku pawai ini menjadi pelepas rindu terhadap kampung halaman. “Ini seperti mengobati kerinduan kami akan suasana Bali, apalagi menjelang Nyepi,” ujarnya.
Sementara itu, warga lainnya, Rosanah, menilai kegiatan ini menjadi hiburan sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga. “Seru dan menarik, apalagi jarang ada acara seperti ini,” katanya.
Pawai ogoh-ogoh sendiri merupakan bagian dari rangkaian ritual menjelang Hari Raya Nyepi, yang melambangkan pembersihan diri dari hal-hal negatif. Di Cimahi, kegiatan ini rencananya akan dijadikan agenda tahunan sebagai wujud toleransi dan keberagaman.
Meski umat Hindu tergolong minoritas di Cimahi, perayaan ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat mampu hidup berdampingan dalam perbedaan, serta menjaga harmoni di tengah keberagaman budaya dan agama. (uby)




