MERSEYSIDE, WWW.PASJABAR.COM – “Halo semuanya, sayangnya, hari itu telah tiba.” Kalimat singkat dari Mohamed Salah di depan lemari trofi raksasanya menjadi lonceng kematian bagi era paling produktif dalam sejarah modern Liverpool. Sang “Raja Mesir” Mohamed Salah dipastikan tanggalkan mahkotanya di Anfield pada akhir musim ini, menyisakan lubang besar sekaligus perdebatan sengit mengenai alasan sebenarnya di balik kepergian ini.
Rasa Penerimaan yang Ganjil
Ada fenomena unik di kalangan pendukung The Reds. Di balik rasa syukur atas jasa Salah sejak 2017, muncul rasa penerimaan yang aneh.
Seolah-olah, perpisahan setahun lebih awal dari kontrak aslinya adalah solusi logis bagi beban finansial klub.
Sebagai pemain dengan gaji tertinggi dalam sejarah Liverpool, catatan lima gol dari 22 laga Liga Premier musim ini memang sulit dijadikan pembenaran. Namun, benarkah Salah satu-satunya yang patut disalahkan?
Debat Fisik: Benarkah Kaki Sang “Raja Mesir” Mohamed Salah Sudah Melambat?
Kritik tajam datang dari legenda klub, Jamie Carragher, yang menyebut kaki pemain berusia 33 tahun itu tak lagi sekuat dulu.
Di lapangan, Salah memang tampak kesulitan melewati lawan dengan kecepatan eksplosif yang menjadi ciri khasnya.
Namun, statistik berbicara lain. Meski dianggap menurun, Salah tetap mencatatkan keterlibatan gol (gol dan assist) yang lebih tinggi dibandingkan bintang muda seperti Bukayo Saka di semua kompetisi—padahal Salah tampil delapan kali lebih sedikit.
Penampilan luar biasanya saat menghancurkan Galatasaray 4-0 pekan lalu menjadi bukti bahwa api kompetisi itu belum sepenuhnya padam.
Krisis Standar di Ruang Ganti
Ada aroma ketidakadilan dalam cara publik memandang Salah dibandingkan dengan sang kapten, Virgil van Dijk. Saat performa Van Dijk menurun, publik cenderung menyalahkan rekan setimnya. Namun saat Salah kesulitan, ia langsung dituding sudah “habis”.
Andy Robertson memberikan pembelaan menarik dengan menekankan etos kerja Salah yang luar biasa.
“Banyak orang bisa mencontoh standar profesionalismenya,” ujar Robertson.
Kalimat ini seolah menjadi sindiran halus bagi barisan pemain baru di Anfield—seperti Ryan Gravenberch atau Ibrahima Konate—yang masih berjuang membuktikan nilai transfer tinggi mereka di tengah inkonsistensi tim asuhan Arne Slot.
Mencari Jawaban di Istanbul
Kini, fokus beralih ke tanggal 30 Mei. Final Liga Champions di Istanbul bisa menjadi panggung terakhir bagi Salah untuk memberikan kado perpisahan terindah.
Jika Salah mampu membawa trofi Si Kuping Besar kembali ke Merseyside, maka narasi tentang “kaki yang sudah tidak bisa bergerak” akan terkubur oleh status legenda abadi yang ia tinggalkan.
Kepergian Salah bukan sekadar soal penurunan fisik, melainkan soal transisi identitas sebuah klub besar yang sedang mencari arah baru.







