
Oleh : Firdaus Arifin, Dosen YPT Pasundan Dpk FH Unpas (Mengakui Setelah Berkuasa)
WWW.PASJABAR.COM – Ada yang diam-diam kita pelihara dalam hidup bersama: kecenderungan untuk baru melihat seseorang ketika ia sudah berada di atas. Seolah-olah keberadaan manusia harus terlebih dahulu dilegitimasi oleh jabatan, oleh kursi, oleh tanda tangan yang memiliki daya paksa.
Kita tidak sekadar hidup dalam masyarakat yang menghargai prestasi. Kita hidup dalam masyarakat yang menunggu legitimasi kekuasaan untuk mulai mengakui keberadaan seseorang.
Dan di situlah masalahnya.
Kosong
Seseorang bisa bertahun-tahun hidup di sekitar kita—bekerja, berpikir, berbuat—tanpa benar-benar “dianggap ada”. Ia mungkin memiliki gagasan, integritas, bahkan keberanian. Tapi semua itu tidak cukup.
Sampai suatu hari, ia menjadi pejabat.
Dan seketika, semua berubah.
Ia diundang bicara. Ia diminta pendapat. Ia disebut-sebut sebagai sosok penting. Bahkan, orang-orang yang dulu tak pernah memberi ruang, kini mengaku pernah dekat.
Apa yang berubah? Bukan orangnya. Yang berubah adalah posisi simboliknya.
Di sini kita melihat sesuatu yang ganjil: pengakuan tidak diberikan kepada kualitas, melainkan kepada kekuasaan.
Maka sebelum berkuasa, seseorang adalah “kosong”. Bukan karena ia benar-benar kosong, tetapi karena kita memilih untuk tidak melihatnya.
Simbol
Kita terlalu mudah tertipu oleh simbol. Jabatan menjadi semacam stempel ontologis—seolah-olah ia memberi keberadaan yang lebih sah, lebih nyata.
Jean Baudrillard pernah mengingatkan bahwa dalam masyarakat modern, kita sering hidup dalam simulasi—di mana tanda lebih penting daripada realitas. Jabatan, dalam hal ini, adalah tanda itu. Ia menggantikan substansi.
Orang tidak lagi bertanya: siapa dia? Apa yang ia pikirkan? Apa yang telah ia lakukan?
Pertanyaan itu digantikan oleh sesuatu yang lebih sederhana, tapi lebih dangkal: ia menjabat apa?
Dan dari jawaban itu, seluruh sikap kita ditentukan.
Transaksi
Pengakuan, dalam konteks ini, bukan lagi peristiwa etis. Ia menjadi transaksi.
Kita mengakui karena ada kemungkinan manfaat. Kita mendekat karena ada potensi akses. Kita menyapa karena ada peluang yang bisa dibuka.
Relasi berubah menjadi kalkulasi.
Maka tidak mengherankan jika seseorang tiba-tiba memiliki banyak “teman” setelah berkuasa. Tapi teman-teman itu sering kali bukan hadir karena kedekatan batin, melainkan karena kedekatan kepentingan.
Di sini, pengakuan kehilangan maknanya yang paling dasar: kejujuran.
Ia menjadi alat.
Hipokrisi
Yang lebih menyedihkan, kita tidak merasa ini sebagai masalah. Kita menganggapnya normal. Bahkan, kita ikut bermain di dalamnya.
Kita diam ketika seseorang diabaikan sebelum berkuasa. Kita ikut mengerumuni ketika ia sudah berada di puncak. Kita mungkin bahkan menjadi bagian dari mereka yang tiba-tiba “ingat”.
Dalam diam itu, ada hipokrisi yang kolektif.
Kita berbicara tentang meritokrasi, tentang penghargaan terhadap kualitas. Tapi dalam praktik, kita lebih tunduk pada hierarki kekuasaan.
Kita tidak mengakui karena seseorang layak diakui. Kita mengakui karena ia sudah tidak bisa diabaikan.
Kuasa
Michel Foucault pernah mengatakan bahwa kekuasaan membentuk apa yang dianggap sebagai kebenaran. Dalam konteks ini, kekuasaan juga membentuk siapa yang dianggap “berharga”.
Seseorang menjadi relevan bukan karena ia membawa kebenaran, tetapi karena ia memiliki posisi.
Dan kita, sebagai masyarakat, menerima itu tanpa banyak perlawanan.
Kita membiarkan kekuasaan menentukan nilai manusia.
Kerapuhan
Namun ada satu hal yang sering kita lupakan: jabatan itu sementara.
Ketika jabatan itu hilang, sering kali hilang pula pengakuan yang menyertainya. Orang-orang yang dulu dekat, kembali menjauh. Nama yang dulu sering disebut, kembali tenggelam.
Dan di titik itu, kebenaran menjadi telanjang.
Bahwa yang kita akui selama ini bukanlah orangnya, melainkan kekuasaannya.
Bahwa relasi yang kita bangun bukanlah relasi, melainkan jaringan kepentingan.
Bahwa penghormatan yang kita berikan bukanlah penghormatan, melainkan respons terhadap simbol.
Cermin
Barangkali, fenomena ini bukan sekadar tentang mereka yang berkuasa. Ia adalah cermin bagi kita semua.
Tentang bagaimana kita menilai manusia.
Tentang bagaimana kita memberi tempat bagi seseorang dalam hidup bersama.
Dan tentang bagaimana kita, tanpa sadar, ikut melanggengkan dunia di mana keberadaan seseorang harus terlebih dahulu “disahkan” oleh jabatan.
Kita mungkin perlu bertanya lebih jujur: apakah kita benar-benar menghargai manusia, atau hanya menghormati kekuasaan?
Jika jawabannya yang kedua, maka kita tidak hanya sedang menyaksikan masalah sosial.
Kita sedang hidup di dalamnya. (han)






