# gempa Bitung
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Kota Bitung dan sekitarnya pada Kamis (2/4) pagi menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur di sejumlah daerah.
Seperti dalam siaran pers BNPB kepada Pasjabar, Kamis (4/2/2026) disebutkan, gempa telah memicu tsunami dengan ketinggian rendah di beberapa wilayah pesisir, yang sempat menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Korban Jiwa Ditemukan di Reruntuhan
Satu orang warga dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan bangunan di kawasan Kota Manado.
Korban ditemukan di antara puing-puing Gedung KONI yang berada di area lapangan olahraga Sario.
Tim gabungan yang terdiri dari aparat dan masyarakat sekitar langsung melakukan evakuasi setelah menerima laporan kejadian.
Hingga saat ini, proses pendataan korban masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama instansi terkait.
Belum ada laporan resmi terkait jumlah korban luka, namun beberapa warga dilaporkan mengalami trauma akibat guncangan yang cukup kuat dan berlangsung selama 10 hingga 20 detik.
Selain korban jiwa, kerusakan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain, termasuk di Kota Ternate.
Di sana, satu unit tempat ibadah di Kecamatan Pulau Batang Dua mengalami kerusakan, serta dua rumah warga di Kelurahan Ganbesi, Kecamatan Ternate Selatan terdampak cukup serius.
Tsunami Kecil Picu Kepanikan Warga
Gempa besar ini juga memicu terjadinya tsunami dengan ketinggian di bawah satu meter di beberapa wilayah.
Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat bahwa ketinggian gelombang bervariasi, mulai dari 0,2 meter di Bitung hingga mencapai 0,75 meter di Minahasa Utara.
Wilayah lain seperti Halmahera Barat mencatat ketinggian 0,3 meter, Sidangoli 0,35 meter, dan Belang sekitar 0,68 meter.
Meski tergolong kecil, fenomena ini tetap memicu kepanikan warga, khususnya yang tinggal di kawasan pesisir.
Banyak warga berhamburan keluar rumah dan berusaha menjauhi pantai begitu merasakan guncangan kuat.
Sejumlah warga bahkan memilih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan tsunami susulan.
BMKG mengingatkan bahwa gelombang pertama tidak selalu menjadi yang terbesar.
Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap waspada dan tidak kembali ke wilayah pesisir sebelum ada pernyataan resmi bahwa kondisi benar-benar aman.
Gempa Susulan dan Imbauan Pemerintah
Hingga pukul 06.50 WIB, BMKG mencatat setidaknya 11 gempa susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar mencapai 5,5.
Dua gempa susulan signifikan terjadi pada pukul 06.07 WIB dan 06.12 WIB, yang meskipun cukup kuat, tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun siaga.
Warga yang berada di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara diminta segera menjauhi pantai dan muara sungai, serta melakukan evakuasi mandiri jika merasakan guncangan kuat.
Pemerintah juga mengingatkan pentingnya saling membantu, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas.
Selain itu, masyarakat diminta untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi guna menghindari kepanikan yang lebih luas.
Pendataan dan Penanganan Masih Berlangsung
Saat ini, tim dari BPBD dan instansi terkait masih terus melakukan monitoring serta asesmen di lapangan.
Pendataan dampak gempa, baik dari sisi korban maupun kerusakan, masih berlangsung dan akan diperbarui secara berkala.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa dan tsunami.
Pemerintah daerah bersama lembaga terkait terus berupaya memastikan keselamatan warga serta mempercepat proses penanganan darurat di lokasi terdampak. (*/tie)
# gempa Bitung







