CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Senin, 11 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home PASKREATIF

Temu Sejarah Hadirkan “Mei Merah 1998”: Luka Perempuan dalam Bara Reformasi

Tiwi Kasavela
15 Juli 2025
Temu Sejarah Hadirkan “Mei Merah 1998”: Luka Perempuan dalam Bara Reformasi

Temu Sejarah Hadirkan “Mei Merah 1998”: Luka Perempuan dalam Bara Reformasi. (Ist)

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— “Dalam kobaran api Tragedi Mei 1998 di Jakarta yang bersimbah darah, martabat seorang perempuan direnggut oleh para lelaki bedebah…”

Kalimat pembuka ini menyayat—seperti membuka luka lama yang belum benar-benar sembuh. Di tengah gelombang reformasi dan runtuhnya rezim yang telah berkuasa puluhan tahun, sejarah menyimpan lembaran paling gelap: tentang tubuh-tubuh perempuan yang dihancurkan, tentang arwah yang gentayangan, tentang ingatan kolektif yang mencoba ditutup rapat oleh bangsa ini.

Novel Mei Merah 1998: Kala Arwah Berkisah adalah fiksi yang memeluk kenyataan. Ditulis oleh Naning Pranoto, buku ini mengangkat kisah seorang perempuan Tionghoa—korban kekerasan seksual brutal saat Tragedi Mei 1998—yang harus mengandung seorang anak dari rahim luka. Anak itu tumbuh besar dalam stigma, dihantui tanya tentang siapa ayahnya, dan mencoba menelusuri jejak ibunya—perempuan yang dikuburkan hidup-hidup oleh sejarah yang enggan mengingat.

Baca juga:   Temu Sejarah Gelar Diskusi Buku #83: Mengupas Marhaenisme, Dialektika Soekarno dan Marxisme

Dalam rangka membedah buku penuh luka ini, Temu Sejarah bekerja sama dengan Yayasan Pustaka Obor Indonesia akan menggelar Diskusi Buku #74 pada:

?️ Kamis, 17 Juli 2025
? 20.00–21.30 WIB
? Via Zoom (Gratis & Terbuka untuk Umum)
? Pendaftaran: 0895-3572-55688 (Format: Daftar – Diskusi Buku #74 – Nama – Domisili)

Diskusi akan menghadirkan langsung Naning Pranoto sebagai penulis dan pemantik cerita, serta dipandu oleh moderator Tiwi Kasavela dari Temu Sejarah. Bersama, kita akan menggali narasi sejarah dari sudut yang jarang disentuh: tubuh perempuan sebagai medan luka, dan sastra sebagai ruang perlawanan.

Baca juga:   Menelusuri Jejak Terakhir Diponegoro: Temu Sejarah Hadirkan Peter Carey dan Subiyanto dalam Diskusi Buku #70

Tentang Ingatan yang Harus Dipulihkan

Tragedi Mei 1998 bukan hanya catatan politik. Ia adalah kisah manusia. Ribuan korban kehilangan nyawa, ribuan perempuan diperkosa, rumah-rumah dibakar, dan rasa aman dirampas. Namun sampai hari ini, tidak ada satupun pelaku yang diadili. Sejarah berusaha dikaburkan. Luka dipaksa untuk dilupakan.

Lewat novel ini, Naning Pranoto menolak lupa. Ia membangun fiksi sebagai jembatan menuju ingatan kolektif. Ia menulis dengan amarah yang terjaga, dengan empati yang mengalir dari setiap paragraf.

Baca juga:   Indira, Duta Unpas Bangga dan Bersyukur atas Pribadinya

Diskusi ini bukan sekadar ajang literasi. Ini adalah bagian dari kerja budaya untuk mengingat, memulihkan, dan menolak bungkam. Karena sejarah yang tak disuarakan, hanya menunggu saat untuk kembali berulang.

“Karena luka yang tidak diingat akan membusuk dalam diam. Dan sejarah yang tidak disuarakan akan kembali berulang.”

Mari duduk bersama, menyimak, berdiskusi, dan menyalakan nyala kecil di tengah gelapnya memori bangsa. (tiwi)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Tiwi Kasavela
Tags: mei merah 1998Temu Sejarah


Related Posts

Malia Nur Alifa: Menyingkap Tabir Lembang Melalui Kepingan Sejarah yang Terlupakan
PASBANDUNG

Malia Nur Alifa: Menyingkap Tabir Lembang Melalui Kepingan Sejarah yang Terlupakan

16 April 2026
Mengulik Bandung Awal Revolusi 1945–1946, Kisah Kota di Titik Genting Kemerdekaan
PASBANDUNG

Mengulik Bandung Awal Revolusi 1945–1946, Kisah Kota di Titik Genting Kemerdekaan

13 Maret 2026
Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kisah Tragis Apun Gencay dalam Sejarah Cianjur
PASJABAR

Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kisah Tragis Apun Gencay dalam Sejarah Cianjur

5 Maret 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.