# gangguan lambung saat puasa
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Program Ramadan Sehat (REHAT) kembali hadir memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Program ini merupakan hasil kerja sama PASTV dengan Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan (FK Unpas).
Pada episode keempat REHAT kali ini mengangkat tema “Gangguan Lambung Selama Ramadhan”.
Acara dipandu oleh Marwan Rosada, dr., M.Biomed. sebagai host dan menghadirkan narasumber dr. Primal Sudjana, Sp.PD., K-PTI., FINASIM., MH.Kes., MMRS., PIA, yang merupakan dosen pengajar di Fakultas Kedokteran Unpas.
Dalam perbincangan tersebut dibahas berbagai hal terkait gangguan lambung, mulai dari pengertian, penyebab, hingga tips menjaga kesehatan lambung selama menjalankan ibadah puasa.
Gangguan Lambung Tidak Hanya Terjadi di Lambung
Menurut dr. Primal Sudjana, gangguan lambung sebenarnya tidak hanya terbatas pada organ lambung saja.
Sistem pencernaan manusia merupakan rangkaian organ yang saling berkaitan, mulai dari mulut, kerongkongan, lambung, hingga usus.
“Proses pencernaan dimulai dari makanan yang masuk melalui mulut, dikunyah, kemudian melewati kerongkongan menuju lambung, lalu dicerna di usus dan akhirnya sisa makanan dikeluarkan.
Jadi ketika kita menyebut penyakit maag atau gangguan lambung, sebenarnya tidak hanya lambung saja, tetapi juga bisa berkaitan dengan organ sekitarnya seperti kerongkongan, usus dua belas jari, bahkan hingga mulut,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa gangguan yang sering muncul antara lain nyeri ulu hati, gangguan pencernaan, tukak lambung, perut kembung, sering bersendawa, cepat kenyang, hingga rasa asam di mulut akibat naiknya asam lambung.
Kondisi naiknya asam lambung tersebut dikenal sebagai GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), yaitu ketika asam lambung naik ke kerongkongan karena adanya gangguan pada katup penghubung antara kerongkongan dan lambung.
Penyebab Gangguan Lambung Saat Puasa
Dr. Primal menjelaskan bahwa pada dasarnya dalam sistem pencernaan terdapat dua faktor utama, yaitu faktor pelindung dan faktor perusak.
“Asam lambung sebenarnya diproduksi tubuh untuk membantu mencerna makanan. Namun jika produksinya berlebihan atau lambung dalam keadaan kosong terlalu lama, maka asam lambung dapat mengiritasi dinding lambung,” ujarnya.
Kondisi tersebut sering terjadi saat bulan puasa, terutama jika pola makan tidak teratur atau jenis makanan yang dikonsumsi kurang tepat.
Ketika asam lambung lebih dominan dibandingkan faktor pelindung, maka dapat menimbulkan iritasi bahkan luka pada lambung.
Apakah Penderita Maag Boleh Berpuasa?
Terkait pertanyaan apakah penderita gangguan lambung boleh berpuasa, dr. Primal menjelaskan bahwa hal tersebut bergantung pada kondisi masing-masing individu.
“Jika seseorang setiap hari mengalami keluhan berat pada lambung, tentu tidak disarankan untuk berpuasa.
Namun jika gangguan lambungnya disebabkan oleh pola hidup yang kurang baik, biasanya masih bisa menjalankan puasa dengan pengaturan pola makan dan pengobatan yang tepat,” jelasnya.
Ia menyarankan agar penderita gangguan lambung berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis sebelum menjalankan puasa, terutama untuk mengatur pola makan sahur, berbuka, serta jadwal konsumsi obat.
Selain itu, beberapa jenis makanan yang perlu dihindari antara lain makanan pedas, makanan asam, serta makanan yang mudah menimbulkan kembung.
Pola Makan Sehat untuk Penderita Lambung Saat Ramadhan
Dr. Primal juga memberikan beberapa saran pola makan bagi penderita gangguan lambung selama bulan Ramadhan.
Ia menekankan pentingnya mengakhirkan waktu sahur dan menyegerakan berbuka puasa, sesuai dengan anjuran sunnah.
“Ketika berbuka jangan langsung makan berat dalam jumlah banyak. Sebaiknya mulai dengan makanan yang ringan atau lunak terlebih dahulu,” katanya.
Beberapa jenis makanan yang dianjurkan antara lain:
- Karbohidrat kompleks seperti oatmeal atau nasi tim
- Makanan yang tidak terlalu berminyak atau digoreng
- Lauk yang dikukus atau direbus
- Mengurangi konsumsi gula berlebihan
- Memilih makanan tinggi serat
Ia juga menyarankan agar menghindari kulit ayam karena kandungan lemaknya dapat memicu peningkatan asam lambung.
Selain itu, kebutuhan cairan juga harus terpenuhi dengan baik.
“Tubuh tetap membutuhkan sekitar dua liter cairan dalam 24 jam agar tidak mengalami dehidrasi. Pola minumnya bisa diatur antara waktu berbuka hingga sahur,” jelasnya.
Minuman bersoda juga sebaiknya dihindari karena dapat menyebabkan perut kembung dan begah.
Batasi Konsumsi Kopi dan Perbaiki Gaya Hidup
Terkait kebiasaan minum kopi, dr. Primal mengingatkan agar konsumsi kopi yang mengandung kafein dibatasi.
“Kafein merupakan stimulan yang dapat merangsang produksi asam lambung. Apalagi sekarang banyak jenis kopi dengan kandungan kafein yang cukup tinggi,” ujarnya.
Selain pola makan, gaya hidup juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan lambung.
Beberapa kebiasaan sehat yang dianjurkan antara lain:
- Tidur yang cukup dan teratur
- Menghindari rokok
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
- Mengelola stres dengan baik
Kenali Tanda Bahaya Gangguan Lambung
Di akhir perbincangan, dr. Primal memberikan pesan penting bagi masyarakat yang mengalami gangguan lambung saat menjalankan puasa.
“Jika muncul tanda bahaya seperti nyeri perut yang berkepanjangan, kram perut hebat, atau bahkan muntah darah, maka sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter dan tidak memaksakan untuk berpuasa,” tegasnya.
Ia berharap masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman dan sehat.
“Dengan niat yang baik serta menjaga pola hidup yang sehat, insyaAllah puasa Ramadhan tidak hanya memberikan pahala, tetapi juga manfaat bagi kesehatan tubuh,” pungkasnya. (*/tie)
# gangguan lambung saat puasa






