CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home PASJABAR

Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kisah Tragis Apun Gencay dalam Sejarah Cianjur

Tiwi Kasavela
5 Maret 2026
Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kisah Tragis Apun Gencay dalam Sejarah Cianjur

Komunitas Temu Sejarah Indonesia menggelar Diskusi Buku ke-104 bertajuk Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kesaksian Nyai Apun Gencay secara daring melalui Zoom, Kamis (5/3/2026). (Ist)

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Komunitas Temu Sejarah Indonesia menggelar Diskusi Buku ke-104 bertajuk Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kesaksian Nyai Apun Gencay secara daring melalui Zoom, Kamis (5/3/2026) malam. Diskusi ini menghadirkan penulis novel Saep Lukman, jurnalis sejarah Hendi Jo, serta petani kopi Sarongge Tosca Santoso. Kegiatan tersebut dimoderatori oleh Ramadhian F.

Diskusi membahas novel yang mengangkat kisah tragis di balik sejarah kopi di Cianjur serta legenda rakyat tentang sosok Apun Gencay.

Penulis novel, Saep Lukman, menjelaskan bahwa cerita yang ia tulis berangkat dari berbagai kisah rakyat yang berkembang di masyarakat Cianjur dan dikaitkan dengan kondisi sosial pada masa perdagangan kopi kolonial.

“Pada masa itu kopi dibeli dari masyarakat dengan harga yang sangat murah oleh penguasa. Situasi tersebut menjadi salah satu latar ketidakpuasan rakyat yang kemudian saya olah menjadi cerita dalam novel,” kata Saep.

Ia menuturkan, dalam novel tersebut diceritakan kisah seorang gadis bernama Apun yang dipaksa menjadi selir penguasa setempat. Namun Apun menolak dan berusaha melawan situasi tersebut.

Baca juga:   Ragam Budaya Hadir Pada Peringatan HUT Jabar ke-77

“Dalam cerita ini Apun akhirnya dibawa ke pendopo. Di sana terjadi pertemuan dengan Dalem yang kemudian berujung pada peristiwa tragis pembunuhan,” ujarnya.

Saep menegaskan bahwa novel yang ia tulis bukan karya sejarah murni, melainkan karya sastra yang terinspirasi dari berbagai sumber cerita dan riset yang ia lakukan sejak 2010.

“Saya bukan ahli sejarah, jadi novel ini tidak bisa dianggap sebagai karya sejarah. Ini adalah karya fiksi yang terinspirasi dari berbagai kisah dan sumber yang saya temukan,” katanya.

Sementara itu, Hendi Jo menjelaskan bahwa kisah Apun Gencay sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi lisan masyarakat Cianjur.

Ia mengaku pertama kali mendengar cerita tersebut dari nenek dan ibunya ketika masih kecil.

“Ketika saya masih kecil, nenek saya sering menyanyikan hariring yang menyebut nama Apun Gencay. Saat itu saya belum paham ceritanya, tetapi nama itu terus disebut dalam lagu-lagu yang dinyanyikan,” kata Hendi.

Menurut dia, dalam cerita rakyat yang berkembang, Apun Gencay digambarkan sebagai seorang gadis yang sangat cantik dan berbakti kepada orang tuanya.

Baca juga:   Diskusi Buku #76 Temu Sejarah: Sukabumi, Palagan Pejuang 1945–1949

“Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, Apun Gencay dipaksa menjadi selir Ki Dalem setelah penguasa melihat kecantikannya saat berburu di daerah Cikembar,” ujarnya.

Ia menambahkan, cerita tersebut memiliki banyak versi. Dalam salah satu versi, penusukan terhadap penguasa terjadi ketika seorang pengantar Apun tiba-tiba menghunus senjata dan menyerang Ki Dalem di pendopo.

Peristiwa itu dalam beberapa catatan sejarah dikenal sebagai peristiwa “Dalem dicondre”, yang merujuk pada terbunuhnya Aria Wiratanu Datar III pada awal abad ke-18.

Menurut Hendi, keberadaan berbagai versi cerita menunjukkan bahwa sejarah sering kali memiliki banyak sudut pandang.

“Sejarah tidak selalu tunggal. Ada banyak versi yang berkembang di masyarakat, dan itu justru menjadi tantangan bagi peneliti untuk menggali lebih dalam,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, Tosca Santoso menyoroti konteks sejarah kopi di Cianjur yang tidak bisa dilepaskan dari sistem kolonial.

Ia menjelaskan bahwa sebelum kedatangan Belanda, petani Sunda memiliki pola pertanian yang berbeda dengan sistem yang kemudian dipaksakan oleh kolonial.

Baca juga:   Keluarga Gelar Misa Pemberkatan untuk Andriana

“Sebelum kopi menjadi komoditas kolonial, petani Sunda biasanya menggunakan sistem huma dengan pola rotasi yang disebut talun. Mereka berpindah-pindah lahan agar tanah tetap subur,” kata Tosca.

Namun, ketika kopi menjadi komoditas utama, petani dipaksa menetap dan menanam kopi untuk kepentingan perdagangan kolonial melalui sistem yang dikenal sebagai Preangerstelsel.

“Keberhasilan Cianjur menjadi pemasok kopi besar pada masa kolonial sebenarnya dibangun di atas penderitaan petani,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hingga kini posisi petani kopi dalam rantai perdagangan global masih berada di tingkat paling bawah.

“Petani umumnya hanya menjual kopi dalam bentuk buah atau biji mentah, sementara nilai tambah terbesar justru berada di tahap pengolahan dan pemasaran,” kata Tosca.

Diskusi ini diharapkan dapat membuka ruang refleksi mengenai hubungan antara sejarah, sastra, dan kondisi sosial masyarakat. Melalui pembacaan ulang kisah masa lalu, publik diajak melihat kembali bagaimana sejarah lokal dapat memberi pemahaman baru tentang realitas yang dihadapi masyarakat hingga hari ini. (tiwi)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Tiwi Kasavela
Tags: CintaDiskusi BukukekuasaankopiTemu Sejarah


Related Posts

Malia Nur Alifa: Menyingkap Tabir Lembang Melalui Kepingan Sejarah yang Terlupakan
PASBANDUNG

Malia Nur Alifa: Menyingkap Tabir Lembang Melalui Kepingan Sejarah yang Terlupakan

16 April 2026
Mengulik Bandung Awal Revolusi 1945–1946, Kisah Kota di Titik Genting Kemerdekaan
PASBANDUNG

Mengulik Bandung Awal Revolusi 1945–1946, Kisah Kota di Titik Genting Kemerdekaan

13 Maret 2026
Buku Teks Sejarah Indonesia
PASNUSANTARA

Meninjau Ulang Representasi Peranakan Tionghoa dalam Buku Teks Sejarah Indonesia

26 Februari 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.