BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Diskusi Buku #105 Temu Sejarah Indonesia, Kamis (12/3/2026), menghadirkan pembahasan mendalam mengenai masa-masa paling genting di Bandung pada awal kemerdekaan, periode Agustus 1945 hingga Maret 1946.
Acara yang digelar secara daring ini menggunakan buku Bandung Awal Revolusi 1945–1946 karya John R.W. Smail sebagai pijakan untuk menelusuri dinamika kota yang jarang terekam dalam sejarah besar Indonesia.
Narasumber Iman Firmansyah menjelaskan, Bandung memiliki karakter perjuangan yang unik dibandingkan kota-kota lain di Jawa.
“Kalau di Surabaya, sistem perjuangan lebih dikenal terkait pan-Islamisme, sedangkan di Semarang lebih ke sosialisme. Bandung punya hal-hal yang sedikit berbeda,” ujar Iman.
Menurutnya, pemahaman tentang kota ini tidak hanya dapat diperoleh dari pertempuran besar seperti Bandung Lautan Api, tetapi juga dari kisah-kisah kecil yang membentuk pengalaman warga dan pejuang.
Diskusi mengangkat fakta bahwa perlawanan di Bandung tidak selalu melibatkan bentrokan bersenjata masif. Dengan jumlah senjata yang sangat terbatas, sekitar 100 pucuk untuk hampir 10.000 pejuang, strategi yang diterapkan lebih kepada blokade militer dan pengendalian bahan pangan.
“Kalau satu senjata untuk 100 orang, bagaimana perangnya? Itu yang membuat pertempuran di Bandung berbeda dari Surabaya atau Semarang,” kata Iman.
Selain itu, penyebaran berita proklamasi kemerdekaan juga berlangsung dengan penuh kehati-hatian. Jepang saat itu berusaha menahan akses informasi dan bertindak represif. Radio Dome menjadi salah satu sarana penting untuk menyebarkan berita kemerdekaan di Bandung, meski beberapa penyiar sempat ditangkap pihak militer Jepang.
“Mereka menyebarkan berita secara bergiliran mulai jam 4 sore hingga malam, sambil mengedarkan pamflet, meski ada ancaman dari polisi militer Jepang,” tambah Iman.
Diskusi juga menyinggung anomali sejarah yang jarang diketahui publik. Misalnya, meski film-film sering menampilkan pertempuran besar, catatan sejarah menunjukkan bahwa pasukan dan badan perjuangan di Bandung lebih banyak menghadapi kesulitan logistik daripada pertempuran bersenjata. Bahkan terdapat kisah unik tentang bungkusan daun yang digunakan untuk menyimpan jasad prajurit Gurkha yang gugur.
Acara ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta, menunjukkan minat kuat masyarakat untuk memahami sisi sejarah Bandung yang jarang diangkat.
Iman menekankan bahwa memahami kisah-kisah kecil di balik peristiwa besar penting untuk melihat bagaimana kota dan warganya membentuk identitas perjuangan.
Dengan narasi yang mendalam, diskusi ini mengungkap bahwa revolusi tidak hanya soal pertempuran besar, tetapi juga soal strategi, ketahanan, dan cerita rakyat yang membentuk sejarah kota.
Rekaman diskusi dapat disimak di https://youtu.be/EIRQ6IO6WTE?si=y5FoR3zMuk-H1abW
(tiwi)







