CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Senin, 11 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home PASBANDUNG

Mengupas Fakta Menarik Dunia Kedokteran Bersama FK Unpas

Nissa Ratna
23 Oktober 2022
FOTO : Vaksinasi Bagi Tenaga Kesehatan
Share on FacebookShare on Twitter

Bandung, WWW.PASJABAR.COM – Di dunia kedokteran, banyak fakta menarik yang bisa diulas. Mulai dari tulisan resep dokter yang sulit dibaca, studi kedokteran yang memakan waktu lama, hingga jasad manusia (kadaver) yang digunakan untuk belajar anatomi.

Apa alasannya? Berikut tanya jawab seputar dunia kedokteran bersama Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan (Unpas) Prof. Dr. Dedi Rachmadi, dr., Sp.A(K)., M.Kes. yang dirangkum dari Podcast Unpas Talk Episode 40.

  1. Kenapa tulisan dokter sulit dibaca?

Kalau tulisan resep dokter susah dibaca, bagaimana petugas farmasi bisa memahaminya? Padahal, jika petugas farmasi salah membaca resep obat, risikonya bisa berbahaya. Dikhawatirkan, pasien menerima jenis obat atau dosis yang tidak sesuai rekomendasi.

Menurut Prof. Dedi, banyaknya pasien yang harus diperiksa dalam waktu praktik terbatas membuat dokter lebih mementingkan informasi dari pasiennya untuk menentukan penanganan yang perlu dilakukan, dibanding menyempurnakan tulisannya.

Baca juga:   Walkot Cimahi Setujui RSUD Cibabat Jadi RS Pendidikan FK Unpas

“Bagi orang yang mendalami ilmu kedokteran dan obat-obatan sebetulnya tidak ada masalah, karena mereka pasti mengerti istilah-istilah medis dan memiliki pemahaman yang sama. Singkatan aturan minum, nama obat, dan lain-lain mereka paham. Berbeda dengan pasien atau orang awam,” katanya.

  1. Kenapa masa studi Kedokteran memakan waktu lama?

Bukan rahasia umum kalau kuliah di jurusan Kedokteran butuh waktu lebih lama dari jurusan lain. Mahasiswa Kedokteran akan menghabiskan waktu sekitar 7 tahun masa studi.

“Ilmu yang dipelajari sangat komprehensif. Dokter harus bisa menilai suatu penyakit dari berbagai aspek supaya pasien tidak bertambah parah, bahkan mengupayakan pengobatan untuk menghindari kematian dan kecacatan,” terangnya.

Selain menjalankan kuliah reguler selama 3,5 – 4 tahun, mahasiswa kedokteran juga harus melewati tahapan co-assistant (koas) atau program profesi dokter yang umumnya berlangsung 2 tahun.

Baca juga:   SIPEKAT, Inovasi Baru untuk Rencana dan Laporan Pembangunan di Antapani Tengah

Di tahap koas, mahasiswa akan berhadapan dengan pasien dan mesti siap mendiagnosis penyakit, memeriksa fisik pasien, sampai membuat resep.

“Setelah melewati tahapan itu, barulah mahasiswa Kedokteran disumpah dan diberi gelar dokter. Masa studi tersebut juga belum termasuk program spesialisasi,” lanjutnya.

  1. Kalau dokter sakit, apakah dokter juga berobat ke dokter lainnya?

Prof. Dedi mengatakan, dokter bisa mengetahui dan membedakan gejala penyakit ringan atau berat. Apabila gejalanya ringan, dokter akan berobat sendiri tanpa perlu pengobatan atau resep dokter. Namun, jika di awal sudah tampak gejala spesifik, dokter akan konsul ke spesialis.

“Saya lulusan ilmu kesehatan anak, bidang ginjal anak. Ketika ada gejala kencing manis atau diabetes pada pasien saya, saya tentu berkonsultasi dengan ahli penyakit dalam. Begitu juga dengan saya ketika sakit,” terangnya.

Baca juga:   PMB 2020/2021 Unpas Via Online, Fak Kedokteran Kebanjiran Pendaftar

   4. Apakah mahasiswa Kedokteran hanya bisa belajar anatomi menggunakan kadaver?

Proses pembelajaran anatomi membutuhkan kadaver (jasad manusia yang diawetkan) sebagai alat peraga. Namun, seiring berkembangnya zaman, belajar anatomi tidak selalu menggunakan kadaver.

“Urutannya, belajar dengan patung tiga dimensi dulu, lalu manekin (boneka phantom) berbahan silikon, potongan tubuh yang diawetkan (sintesa), baru kadaver,” jelas Prof. Dedi.

Hal ini karena penggunaan kadaver harus mengikuti aturan khusus. Apalagi, FK Unpas baru 4 tahun berdiri, sehingga penggunaan kadaver atau potongan tubuh yang diawetkan masih diperoleh dari perguruan tinggi pembina. (*/Nis)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Nissa Ratna
Tags: Dunia KedokteranFK unpas


Related Posts

unpas
PASPENDIDIKAN

Hipertensi Disebut Silent Killer, Dokter Unpas Ingatkan Pemeriksaan Rutin

1 Mei 2026
gangguan lambung saat puasa
HEADLINE

REHAT : Gangguan Lambung Selama Ramadhan

12 Maret 2026
kesehatan mental Ramadhan
HEADLINE

REHAT : Kesehatan Mental di Bulan Ramadan Latih Pengendalian Diri

9 Maret 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.