BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM– Setelah meluncurkan novel Terbakar Delusi dan Gulana Rindu pada 2019 lalu. Kini Tiwi Kasavela kembali meluncurkan novel terbarunya, berjudul Serpihan Hasrat pada Juli 2021.
Tiwi bercerita bahwa novel Serpihan Hasrat bukan hanya tentang cinta. Tapi juga bercerita seputar fragmen masa muda, tentang seseorang yang ingin menemukan dirinya, mengenal orang-orang disekitarnya dan pilihan-pilihan hidup yang terkadang kompleks.
“Cinta yang dalam dan penuh tragedi selalu jadi tema yang menarik buat saya tulis, dibumbui dengan pemikiran dan fragmen si tokoh utama dalam memaknai hidupnya,” ujar Tiwi.
Serpihan Hasrat dan Cinta Dalam Kekhilafan
Novel Serpihan Hasrat, sambung Tiwi menceritakan seorang gadis muda bernama Gefi yang jatuh ke dalam cinta yang tidak pantas.
Rindu yang menyiksa, rasa bersalah yang mengganggu, kekecewaan yang terkubur dan gejolak yang terus memburu, membuat Gefi hidup dalam frustrasi dan penderitaan.
Sudah lebih dari sepuluh tahun, Gefi diam-diam menyukai Ian, seorang pria dewasa yang telah menjaganya dengan kasih.
Ian memiliki wajah yang tampan, suara yang teduh, pelukan yang hangat dan sikap yang mengayomi. Sehingga membuat Gefi selalu gagal dengan janjinya untuk melupakan laki-laki tersebut.
Tapi walaubagaimanapun Gefi tidak mungkin mengungkapkan perasaan cintanya. Karena Ian, adalah kekasih kakak kandungnya sendiri. Dan kini Ian akan segera menikah dengan kakaknya lalu membangun sebuah rumah tangga.
Gefi bimbang, perasaanya sangat sedih dan semuanya itu membuatnya hampir mati.
Dalam kalut ia bertemu dengan Malik, seorang pria keturunan Pakistan yang religius dan baik hati. Malik yang membuatnya selalu bangkit setiap kali ia hancur.
Pertemuan Gefi dengan Malik menjadi sebuah babak baru bagi Gefi untuk memutuskan, apakah ia akan tetap mencintai Ian, atau berusaha menyukai dan menerima Malik di dalam hidupnya.
“Serpihan Hasrat adalah cerita tentang perjuangan seorang gadis melupakan perasaanya yang selalu bergejolak dan tidak pernah padam kepada laki-laki yang mestinya tidak boleh ia cintai,” jelas Tiwi Kasavela.
“Di luar itu, ada hal-hal lain, yang mungkin bisa menjadi ruang kontemplasi atau sekedar hiburan buat para pembaca,” tambah gadis kelahiran 5 Oktober 1994.
Sama seperti novel-novel yang sebelumnya, sambung Tiwi, ada kegalauan batin, spiritual, paradigma, kerumitan-kerumitan yang dialami oleh si tokoh utama.
“Baik Terbakar Delusi, Gulana Rindu maupun Serpihan Hasrat, mungkin adalah sisi lain dari diri saya. Sedikit merepresentasikan pemikiran, pergumulan batin, pengalaman yang saya jumpai di dalam kehidupan nyata,” urai lulusan Magister Ilmu Komunikasi.
Penggemar kajian filsafat dan teologi ini juga menambahkan bahwa ke depan, ia masih akan terus menulis dan menerbitkan novel berikutnya.
“Sejak kecil saya hobi menulis dan mendedikasikan seluruh waktu senggang saya untuk menulis berbagai hal, mulai dari autobiografi, kumpulan cerpen, puisi juga tentunya novel. Dan menerbitkan novel buat saya kesenangan pribadi,” ucap Tiwi yang saat ini berprofesi sebagai jurnalis di media online dan penyiar radio di Kota Bandung, Jawa Barat.
“Saya juga ingin mengucapkan terimakasih untuk teman-teman, kenalan, atau bahkan yang tidak kenal tapi sudah membeli dan membaca buku saya. Yang menyampaikan komentar, membuat resensi atau bahkan yang selalu bertanya kapan novel baru saya akan terbit lagi. Terima kasih yaa… kalian sumber semangat saya untuk terus menulis dan menerbitkan karya,” pungkasnya sambil mengulas sebuah senyuman. (**)





