CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Minggu, 10 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home PASJABAR

Brain-Machine Interfaces, Harapan untuk Kehidupan Penderita Penyakit Otak

Nissa Ratna
7 September 2022
Brain-Machine Interfaces, Harapan dan Solusi untuk Membantu Kehidupan para Penderita Penyakit Otak

Brain-Machine Interfaces, Harapan dan Solusi untuk Membantu Kehidupan para Penderita Penyakit Otak (Foto: itb.ac.id)

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Perkembangan sains dan teknologi semakin maju telah membuahkan berbagai solusi yang dapat mengatasi keterbatasan manusia. Seperti Brain-Machine Interfaces

Telah tercipta berbagai inovasi teknologi yang dapat membantu manusia mengatasi keterbatasan karena penyakit serius seperti kelumpuhan yang disebabkan oleh kelainan otak seperti amyotrophic lateral sclerosis (ALS), spinal cord injury (SCI), dan stroke.

Untuk membantu manusia dalam menghadapi berbagai penyakit tersebut, terciptalah Brain Machine Interface.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPPM ITB) menyelenggarakan Workshop Series LPPM ITB Volume 8 Tahun 2022 dengan tema “Brain-Machine Interfaces: Controlling Devices with Mind”.

Materi pada acara ini dipaparkan oleh Dosen Peneliti, Pusat Artificial Intelligence, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung, Nur Ahmadi, Ph.D., pada hari Rabu (31/8/2022).

Baca juga:   Mahasiswa ITB Raih Medali Emas WYIE 2022 di Malaysia

Brain-machine interface (BMI) sebuah perangkat yang dapat menerjemahkan informasi saraf menjadi perintah

Brain-machine interface (BMI) merupakan sebuah perangkat yang dapat menerjemahkan informasi saraf menjadi perintah yang mampu mengendalikan perangkat lunak atau perangkat keras eksternal seperti komputer atau lengan robot.

BMI sering digunakan sebagai alat bantu hidup untuk individu dengan gangguan motorik atau sensorik.

”Teknologi BMI dapat mendeteksi aktivitas neuron dengan menggunakan sensor sangat kecil yang ditanam di dalam otak. Lalu sensor ini akan mendeteksi spike atau sinyal otak yang melebihi ambang batas tertentu,” papar Nur.

Sinyal input yang paling banyak dimanfaatkan oleh teknologi BMI adalah sinyal single signal activity (SUA)

“Namun, SUA juga memiliki berbagai kelemahan, di antaranya adalah ketidakstabilan SUA dalam jangka panjang yang dapat menurunkan performa dan akurasi dari teknologi BMI. Bukan hanya itu, pemrosesan SUA sangatlah kompleks. Untuk menganalisa satu perintah, peneliti setidaknya harus mengklasifikasikan 150 aktivitas single neuron dan akhirnya menyebabkan proses yang lama serta pemakaian daya yang berlebihan,” terang Nur.

Baca juga:   Percepat Target, 3000 Nakes Jabar Divaksin Covid 19

Untuk mengatasi kelemahan dari SUA, Nur dan para peneliti di Pusat Artificial Intelligence STEI ITB menciptakan entire spiking activity (ESA).

Sebagai alternatif sinyal yang lebih sederhana dan stabil.

Untuk membuktikan efektivitas serta kredibilitas dari entire spiking activity (ESA) dibanding single signal activity (SUA), dilakukanlah eksperimen dengan subjek kera.

“Kera diinstruksikan untuk mengikuti pergerakan kursor pada komputer. Kemudian, pada saat yang sama pergerakan jari serta sinyal dari otak kera direkam menggunakan sensor dan diproses untuk mendapat sinyal ESA dan SUA untuk memprediksi gerakan kursor,” jelasnya.

Baca juga:   Korban Meninggal Akibat Gempa di Kabupaten Cianjur Menjadi 318 Orang

Ia memberikan kesimpulan, setelah diteliti lebih dari 10 bulan, hasil eksperimen menunjukkan bahwa sinyal ESA menghasilkan prediksi gerakan kursor jauh lebih akurat dan stabil daripada sinyal SUA.

Hasil dan bukti nyata dari entire spiking activity (ESA) dan teknologi Brain Machine Interface adalah memungkinkannya terjadi komunikasi antarmanusia.

Via aplikasi chat menggunakan keyboard yang dikendalikan langsung oleh pikiran penggunanya masing-masing.

Selain itu, teknologi ini juga dapat memudahkan penggunanya untuk mengontrol robot tangan untuk membantunya memberi minuman.

“Teknologi BMI ini dapat membantu kehidupan para pasien amyotrophic lateral sclerosis (ALS), spinal cord injury (SCI), dan stroke. Kesimpulannya, teknologi BMI ini dapat menjadi harapan dan solusi untuk para penderita penyakit otak,” pungkas Nur. (*/Nis)

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: ITB


Related Posts

ITB Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Kampus Top Eropa di Belanda
HEADLINE

ITB Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Kampus Top Eropa di Belanda

25 April 2026
itb utbk
HEADLINE

Pelaksanaan UTBK 2026 di ITB Hari Pertama Berjalan Lancar

22 April 2026
ITB SSU
HEADLINE

ITB Perpanjang Pendaftaran SSU 2026, Beri Kesempatan Lebih Luas

20 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.