BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Buku antologi Haiku bertajuk Rhyme of Tears bersama Sharon Lynn Pugh, seniman dan akademisi Indiana University, Bloomington, USA telah diterbitkan oleh Dekan Fakultas Ilmu Seni dan Sastra (FISS) Universitas Pasundan Dr. Hj. Senny Suzanna Alwasilah, M.Pd.
Dilansir dari unpas.ac.id pada Sabtu (25/2/2023), buku antologi Haiku merupakan puisi Jepang yang hanya terdiri dari tiga baris dan 17 suku kata. Masing-masing tersusun atas 5-7-5 suku kata secara berurutan.
Tidak seperti puisi pada umumnya, Buku Antologi Haiku memiliki pakem khusus. Haiku mesti mengandung kigo atau penanda waktu, seperti pagi, siang, atau malam. Misalnya, suasana malam digambarkan dengan bulan.
Sebagian Haiku ia tulis saat perjalanan Visiting Scholar ke Amerika, 2021 lalu. Selama di Amerika, ia kembali bertemu dengan Sharon yang tak lain adalah dosen pembimbingnya.
Enggan menyia-nyiakan kesempatan, momen pertemuan tersebut lantas ia abadikan menjadi sebuah karya.
Dia menuturkan, buku berisikan 100 Haiku ini jadi karya bersejarah. Selain menjadi antologi Haiku pertama yang ia tulis sendiri. Ia juga mewujudkan mimpinya untuk menerbitkan karya bersama pembimbing panutannya.
Komunitas HaikuKu Pernah Terbitkan Buku Antologi Haiku
Sebelumnya, ia dan anggota komunitas HaikuKu Indonesia juga pernah menerbitkan buku antologi Haiku, seperti Haiku Nanggala, Haiku Pandemi Corona, Haiku Hasanah, dan beberapa antologi Haiku lainnya.
Seni Haiku Sebagai Minimalist in the Extreme
Kata pengantar antologi Haiku Rhyme of Tears ditulis langsung oleh Otsuka Hiroko, doktor program studi Sastra Jepang Universitas Padjadjaran yang mendefinisikan seni Haiku sebagai minimalist in the extreme, menghargai kesederhanaan yang disimbolkan melalui struktur puisi sederhana.
“Karena ini puisi Jepang, saya berusaha mencari orang Jepang asli untuk menuliskan kata pengantar dan akhirnya ditulislah oleh Otsuka Hiroko. Saya tuliskan namanya di sampul buku ‘A Word from Otsuka Hiroko’,” ungkapnya.
Rencananya, buku ini bakal diluncurkan di Soka Gakkai Indonesia, pusat kebudayaan dan lembaga perdamaian dunia yang berisikan orang-orang asal Jepang.
Tidak hanya antologi Haiku, dalam waktu dekat ia dan penulis yang tergabung di Asian Women Writers Association (AWWA) akan meluncurkan antologi puisi dan cerpen untuk diterbitkan pada ulang tahun AWWA, April mendatang.
“Saya juga sedang menggarap puisi dengan kenalan saya di Amerika. Karena saya berkecimpung di bidang sastra, jadi proyek yang dikerjakan masih seputar itu. Kemarin puisi saya dimuat di salah satu majalah Korea dan diterjemahkan ke bahasa Korea. Hal tersebut tentu jadi kebangaan tersendiri bagi saya,” pungkasnya. (*/ran)




