BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Momen Lebaran sering kali menjadi ajang silaturahmi dan sapa menyapa dengan keluarga besar.
Namun, beberapa orang merasa kurang nyaman ketika mendapat pertanyaan sensitif, seperti “Kapan menikah?” atau “Kapan punya anak?”.
Psikolog Klinis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya Kota Denpasar, Nena Mawar Sari, membagikan kiat menghadapi situasi tersebut dengan bijak.
Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya bersifat netral. Meskipun bagi sebagian orang dapat terasa melewati batas.
“Perlu disadari bahwa pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya netral. Namun, memang bagi beberapa orang, pertanyaan ini bisa dianggap tidak sopan atau mengganggu,” ujar Nena, dilansir dari Antara.
Menghadapi Pertanyaan dengan Santai
Agar suasana hati tetap terjaga selama Lebaran, Nena menyarankan beberapa cara dalam merespons pertanyaan yang dirasa sensitif:
- Senyum dan Menghindar
Jika merasa tidak nyaman, cukup berikan senyuman dan mengalihkan pembicaraan. “Paling tidak, orang tersebut akan menyadari bahwa kita tidak nyaman dengan situasi tersebut,” katanya. - Menjawab dengan Santai dan Bercanda
Salah satu cara merespons adalah dengan menjawab ringan. “Misalnya, kalau ditanya ‘Kapan nikah?’, bisa dijawab ‘Besok, kalau tidak kesiangan,'” ujarnya sambil tertawa. - Senyum dan Berlalu Jika Menghadapi Orang yang Toksik
Jika pertanyaan datang dari orang yang sering melontarkan komentar tidak menyenangkan, cukup senyum dan berlalu. “Tidak semua pertanyaan harus diberikan jawaban lengkap,” tambahnya.
Memahami Konteks Relasi
Menurut Nena, dalam kehidupan sosial, ada tiga lapisan relasi yang mempengaruhi cara kita merespons:
- Ppertama: Orang yang sangat dekat dengan kita, seperti sahabat atau pasangan, yang biasanya lebih memahami kondisi kita.
- Kedua: Keluarga dekat, seperti orang tua atau saudara kandung. Kepada mereka, kita bisa memberikan jawaban dengan alasan meski tidak terlalu rinci.
- Ketiga: Tuhan. Dalam hal-hal yang belum bisa dijawab, kita bisa menyerahkannya dalam doa.
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial, dan interaksi dengan keluarga saat Lebaran adalah hal yang wajar.
Namun, setiap orang memiliki pengalaman dan sensitivitas yang berbeda terhadap pertanyaan tertentu.
“Saya rasa, pertanyaan yang dianggap sensitif ini tidak perlu sampai menghambat kebahagiaan kita dalam menyambut Hari Raya Lebaran,” pungkas Nena. (han)







