CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Sabtu, 9 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Gapura Pancawaluya & Barak Militer Meruntuhkan Logika Rocky Gerung

Hanna Hanifah
28 Mei 2025
barak militer

ilustrasi. (foto; binokular.net)

Share on FacebookShare on Twitter
Adang, Dosen STIE Pasundan Bandung

Oleh: Adang, Dosen STIE Pasundan Bandung (Gapura Pancawaluya & Barak Militer Meruntuhkan Logika Rocky Gerung)

WWW.PASJABAR.COM – Angka kenakalan remaja di jawa barat. Data ini hanya sebagian saja, setidaknya dapat menggambarkan kondisi dan masalah kenakalan remaja di Jawa Barat, yang merupakan isu kompleks dan memerlukan perhatian serius. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Open Data Jawa Barat, jumlah kasus kenakalan remaja menunjukkan tren penurunan selama tiga tahun terakhir. Pada tahun 2020 tercatat 12.345 kasus, menurun menjadi 11.567 kasus pada tahun 2021, dan kembali turun menjadi 10.890 kasus pada tahun 2022. Sebelumnya pada tahun 2020 terdapat penurunan jumlah kasus dari tahun 2020 hingga 2022 sebesar 12,05%, penurunan ini masih tergolong belum signifikan. Permasalahan kenakalan remaja di Jawa Barat merupakan isu sosial yang kompleks dan memerlukan penanganan serius dari berbagai pihak.

Kenakalan remaja pada anak sekolah seperti tawuran, ikut geng motor, membolos sekolah, atau bahkan terlibat dalam penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, pada dasarnya bukan hanya sekadar perilaku menyimpang, tapi juga cerminan dari krisis identitas dan lemahnya dukungan sosial di sekeliling mereka. Saya kutip teorinya Erik Erikson dalam bukunya Childhood and Society (1950), bahwa masa remaja adalah tahap penting dalam pembentukan identitas diri. Jika di fase ini remaja gagal menemukan jati diri mereka karena lingkungan yang tidak mendukung atau penuh tekanan, maka yang muncul adalah kebingungan, pemberontakan, bahkan perilaku merusak diri sendiri.

Travis Hirschi dalam Causes of Delinquency (1969), menyatakan perilaku menyimpang tumbuh ketika hubungan remaja dengan orang tua, sekolah, dan nilai-nilai sosial menjadi longgar atau rusak. Jadi, ketika remaja kehilangan arah dan tidak ada sistem sosial yang mampu menuntun mereka, maka pelarian dalam bentuk kenakalan. Akibatnya, mereka berisiko putus sekolah, sulit berkembang secara mental maupun emosional, hingga akhirnya tidak mampu bersaing di dunia kerja. Ini semua bukan hanya menjadi beban bagi diri mereka sendiri, tapi juga bagi negara, karena meningkatnya pengangguran dan rendahnya produktivitas dari generasi muda yang seharusnya bisa menjadi kekuatan pembangunan.

Dampak Sosio Psikologis

Kenakalan remaja di Jawa Barat telah menjadi gejala sosial yang sulit diabaikan, mulai dari tawuran pelajar yang sangat brutal, geng motor yang meresahkan warga, hingga perilaku bolos sekolah dan penyalahgunaan alkohol, perilaku – perilaku menyimpang ini menimbulkan celah besar dalam sistem pembinaan karakter anak remaja. Kegagalan keluarga dalam memberi bimbingan, lemahnya otoritas sekolah, serta minimnya peran lingkungan sosial membuat para remaja tumbuh tanpa arah yang jelas. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya masa depan mereka yang terancam, dampak lebih besar adalah  daya saing provinsi ini di masa depan.

Anak-anak yang seharusnya menjadi aset pembangunan justru berisiko menjadi beban sosial karena kehilangan akses terhadap pendidikan, kehilangan kendali psikologis, dan terjebak dalam perilaku destruktif yang berkepanjangan. kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang lemah, maka Jawa Barat akan kesulitan mewujudkan visi pembangunan jangka panjang. Potensi daerah akan terhambat, investasi sulit berkembang, dan daya saing dengan provinsi lain pun menurun. Maka program pembinaan karakter remaja bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak demi menjamin keberlanjutan pembangunan dan menjaga fondasi sosial masyarakat di masa mendatang.

Gapura Panca Waluya

Gubernur Jawa Barat atau yang biasa dipanggil Kang Dedi Mulyadi (KDM), untuk mengatasi berbagai perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja, seperti keterlibatan dalam geng motor, aksi tawuran, serta pelanggaran hukum lainnya, mengambil langkah strategis melalui penerbitan Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 43/PK.03.04/KESRA. Surat Edaran ini menjadi bagian dari kebijakan pendidikan karakter yang tertuang dalam konsep Gapura Panca Waluya.

Pembinaan khusus bagi peserta didik dengan perilaku menyimpang atau perilaku khusus (terlibat tawuran, kecanduan game online, merokok, mengonsumsi minuman keras, balapan motor, menggunakan knalpot bising, dan perilaku tidak terpuji lainnya), akan dilakukan pembinaan khusus setelah mendapatkan persetujuan dari orang tua. Pembinaan ini dilakukan melalui kerja sama antara Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota, serta jajaran TNI dan Polri.

Cara berpikir, gagasan dan ide Kang Dedi Mulyadi (KDM) kemudian di tuangkan dalam konsep Gapura Panca Waluya, gagasan ini yang terwujud dalam Surat Edaran bukan sekadar kebijakan administratif, ada falsafah yang berakar kuat pada kearifan lokal masyarakat Sunda. Kebijakan ini dirumuskan dengan tujuan membangun fondasi karakter peserta didik secara holistik, melalui proses pendidikan yang menginternalisasi nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat bela negara dalam kehidupan sehari-hari.

Karakter Ideal

Lima karakter ideal yang diharapkan tumbuh dalam diri peserta didik adalah Cageur (sehat secara jasmani dan rohani), Bageur (berperilaku baik dan santun), Bener (berpegang pada kebenaran dan kejujuran), Pinter (cerdas dan berpengetahuan), serta Singer (tanggap, cekatan, dan berinisiatif). Nilai – nilai ini tidak hanya mencerminkan orientasi pendidikan karakter nasional, tetapi juga merupakan cerminan dari falsafah hidup masyarakat Sunda yang dikenal menjunjung tinggi keselarasan antara akal (IQ), rasa sosial (EQ), serta moral (SQ).

Prinsip hidup silih asah (IQ), silih asih (EQ), silih asuh (SQ) menjadi etika sosial yang menumbuhkan semangat gotong royong, empati, dan tanggung jawab kolektif. Nilai-nilai tersebut satu frekuensi dengan semangat Panca Waluya yang tidak hanya menekankan dimensi akademik, tetapi juga pembentukan jati diri peserta didik sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa. Gapura Panca Waluya dapat diposisikan sebagai bentuk revitalisasi nilai-nilai lokal dalam kebijakan pendidikan kontemporer, yang berfungsi untuk menjembatani antara pendidikan formal dan pembangunan karakter berbasis budaya.

Gapura Panca Waluya tidak sekedar programatik, namun lebih dekat dengan karakter ideologis, tawarannya adalah model pendidikan yang kontekstual dan relevan secara kultural, sekaligus strategis dalam menghadapi tantangan dekadensi moral dan krisis identitas generasi muda. Dalam kerangka ini, kebijakan tersebut berperan sebagai instrumen transformatif yang menanamkan nilai-nilai luhur Sunda dalam kerangka sistem pendidikan nasional.Top of FormBottom of Form

Kritik berbagai kalangan

Gapura Pancawaluya adalah produk dari Kang Dedi Mulyadi (KDM) melalui kebijakannya, dengan mengirimkan siswa (yang masuk kategori memiliki perilaku khusus atau perilaku bermasalah) ke barak militer, dalam prakteknya telah mengundang berbagai pihak untuk tidak sepakat atau / tidak setuju (kontroversi), tentunya hal ini wajar dan manusiawi, sebab apapun bentuknya kontra dan setuju pasti ada. Kebijakan Kang Dedi Mulyadi (KDM) saya yakin dilandasi oleh niat membentuk karakter peserta didik agar lebih disiplin, bertanggung jawab, dan cinta tanah air. Namun, cara yang ditempuh menimbulkan kekhawatiran serius dari banyak kalangan, terutama dalam hal pendekatan yang digunakan dan dampaknya terhadap hak-hak anak, inilah yang menyebabkan ada sebagian kalangan yang kontra.

Ada pihak yang mempertanyakan apakah pendekatan berbasis militer ini masih sejalan dengan prinsip-prinsip dasar pendidikan dalam sistem nasional kita. Pendidikan di Indonesia, cerminannya adalah Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional memiliki tujuan mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, bukan hanya secara fisik atau disiplin, tetapi juga secara moral, sosial, intelektual, dan emosional. Artinya, pendidikan tidak hanya membentuk anak untuk taat, tetapi untuk menjadi manusia yang utuh dan merdeka berpikir.

Baca juga:   Jemaah Haji Asal Subang yang Sakit Dijenguk Ridwan Kamil

Pendidikan

Tidak sebatas itu saja, kemudian masalah menjadi lebih serius ketika muncul laporan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan sejumlah orang tua, yang menyebutkan adanya praktik-praktik pemaksaan, tekanan psikologis, bahkan ancaman tidak naik kelas bagi siswa yang menolak ikut program tersebut. Dalam konteks perlindungan anak, hal-hal seperti ini berpotensi melanggar hak dasar anak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dan prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) secara umum.

Bagi yang kontra katanya model pendekatan militer dalam pendidikan juga menimbulkan pertanyaan mengenai kurikulum dan metode yang digunakan. Apakah benar metode semacam itu mampu menyelesaikan akar masalah perilaku siswa? Ataukah justru menciptakan trauma baru yang bisa memperburuk keadaan? Pendidikan karakter mestinya dijalankan dengan pendekatan yang empatik, suportif, dan berbasis pada pemahaman psikologis anak, bukan melalui tekanan dan ketakutan.

Kritik juga datang dari aspek tata kelola kebijakan publik. Beberapa ahli dan politisi menilai kebijakan ini sebagai bentuk penyalahgunaan kewenangan kepala daerah. Dalam negara hukum, setiap kebijakan harus tunduk pada regulasi nasional, tidak boleh berjalan sendiri di luar kerangka hukum dan tanpa pengawasan publik yang memadai.

Dangkalnya Logika Rocky Gerung

Saya mengabaikan kritik yang lainnya, dan ketertarikan saya untuk membedah logika Rocky Gerung ketika mengkritik kebijakan Kang Dedi Mulyadi (KDM), “barak itu mendisiplinkan tubuh, bukan mengajak orang berpikir.” Sepertinya akan lebih banyak menggunakan akal sehat untuk melawan akal sehat versi Rocky Gerung, sepertinya gaya – gaya filsafatnya sama saja dengan yang dilakukan ketika mengkritik orang, entah siapapun orangnya, terutama para pejabat di Indonesia. Rocky Gerung akan menggunakan permainan ‘pikiran’, ‘ide’ dan ‘gagasan’ dan bahkan ‘pergaulan internasional’, tidak terkecuali, yang di kritik di hadapannya adalah ‘dungu’, kecuali yang ia anggap satu frekuensi. Kalimat Rocky Gerung dapat di artikan seolah semua bentuk disiplin adalah represif, semua barak adalah penjara tentunya akan mengasilkan kesimpulan tubuh yang terlatih adalah pikiran yang tertindas, dari sini saya sudah menduga ada kedangakalan dari logiknya Rocky Gerung.

Rocky Gerung menyebut program pembinaan anak-anak bermasalah di barak militer sebagai bentuk kedangkalan berpikir, ia menggunakan teorinya Michel Foucault dan tafsirnya atas bagaimana kekuasaan bekerja melalui disiplin tubuh. Tetapi membaca Michel Foucault tidak cukup dari kulitnya (judul bukunya) saja, Ia tidak sedang mengajak kita menolak disiplin begitu saja, apalagi menyamakan disiplin dengan represi total, yang saya baca dari Michel Foucault, bahwa gagasannya bukan untuk menghentikan tindakan, tapi untuk menyadarkan bagaimana kuasa merambat dalam keseharian, diam – diam, tapi membentuk (membentuk tubuh yang sehat dan berdisiplin).

Disiplin

Dalam Discipline and Punish (1975), Michel Foucault menyatakan bahwa disiplin ‘membentuk’ individu; ia adalah teknik kekuasaan yang melihat manusia sebagai objek sekaligus alat dari kekuasaan itu sendiri. Maknanya adalah disiplin bukan semata alat untuk mengatur tubuh secara paksa, tetapi juga cara kekuasaan memproduksi individu, ia bukan alat untuk merusak. Tubuh yang terbiasa pada disiplin, misalnya bangun pagi, pada tugas yang dijalani tanpa lari, pada rasa tanggung jawab terhadap waktu dan ruang, adalah tubuh yang membuka jalan bagi pikiran yang jernih.

Akal sulit tumbuh dalam kekacauan tubuh yang tidak teratur, akal akan dapat tumbuh dengan baik lalu menghasilkan pikiran, maka akal memerlukan kebiasaan, irama, bahkan kadang kesunyian. Jika tubuh selalu memberontak, tidak tahan duduk lama, tidak sanggup mendengar, apalagi menahan diri, bagaimana mungkin akal akan belajar berpikir?, jadi menumbuhkan kegiatan berfikir akan didapatkan setelah kita mendisiplinkan tubuh.

Kekeliruan

Rocky Gerung menyamakan pembinaan disiplin (barak militer) dengan penghilangan nalar (mengajak orang berfikir) adalah kekeliruan logis, ia sedang memproduksi false dichotomy, seolah jika seseorang didisiplinkan, maka ia otomatis kehilangan daya pikirnya. Padahal kedisiplinanlah yang menjadi fondasi bagi kemampuan bernalar secara utuh. Anak-anak yang kecanduan tawuran, alkohol, atau membangkang keluarga bukan sedang menunjukkan “kebebasan berpikir.” Mereka hanyut dalam pelarian, pada dorongan sesaat yang tidak selesai menjadi kesadaran. Maka, pembinaan yang keras tapi terukur, yang melibatkan tubuh dan waktu, bisa menjadi jalan masuk untuk membangunkan akal mereka, bukan mematikannya.

Michel Foucault tidak pernah menolak disiplin secara mutlak. Ia hanya mengingatkan bahwa kita harus paham cara kerja kekuasaan melalui ilmu pengetahuan, dan menghasilkan kekuasaan dengan ilmu pengetahuan. Maka, logikanya: disiplin bukanlah musuh kebebasan berpikir. Ia adalah syarat awal agar manusia bisa berpikir dalam urutan yang masuk akal. Jika Rocky Gerung menyimpulkan bahwa disiplin hanya mematikan subjektivitas, Michel Foucault justru berfilsafat sebaliknya disiplin membentuk subjek, bahkan bisa menciptakan individu yang mampu merefleksikan dirinya sendiri.

Membaca ulang Michel Foucault di Barak Militer

Rocky Gerung viral dengan kata pikiran dangkal, argumentasinya menggiring penonton ILC bahwa barak militer hanya melatih tubuh, bukan mengajak orang berpikir. Dengan nalar akademis yang kuat, intelektual Rocky Gerung kemudian mengutip Michel Foucault, seorang filsuf Prancis yang terkenal tajam dalam membedah cara kerja kekuasaan melalui tubuh, namun soalnya adalah Michel Foucault tidak pernah mengajak kita menghindari  berpikir, apalagi menolak semua bentuknya. Ia tidak sedang menulis Discipline and Punish untuk menolak eksistensi dari barak, sekolah, rumah sakit, atau penjara. Ia justru ingin kita memahami cara kerja kekuasaan yang halus, yang tidak selalu terlihat sebagai kekerasan fisik, tapi tetap memengaruhi hidup kita sehari-hari, yang kemudian melahirkan berpikir sehat.

Memamahami bukan sekedar pembacaan terhadap Michel Foucault secara utuh adalah masuk ke dalam struktur, melihat bagaimana kuasa membentuk manusia, bukan sekadar menekannya. We must cease once and for all to describe the effects of power in negative terms… power produces; it produces reality; it produces domains of objects and rituals of truth.” (Discipline and Punish, 194). Kuasa tidak selalu menindas. Ia bisa membentuk realitas, menciptakan kebiasaan, bahkan melahirkan nilai-nilai baru. Maka, barak tidak otomatis menjadi simbol penindasan. Ia bisa menjadi ruang pembentukan, selama dijalankan dengan tujuan yang jelas, adil, dan berpihak pada pemulihan.

Menguji Logika Rocky Gerung

Pernyataan ‘mengirim anak ke barak itu dangkal’ coba saya pikir ulang dengan model sistematis dan pendekatan logika klasik / tradisional berbentuk silogisme kategoris. Pernyataan Rocky Gerung secara eksplisit, struktur logisnya atas  pernyataan tersebut mengikuti pola silogisme Barbara (A–A–A) sebagai berikut:

  • Premis Mayor (P1): Semua tempat yang hanya mendisiplinkan tubuh adalah tempat yang dangkal dalam pendidikan.
  • Premis Minor (P2): Semua barak militer adalah tempat yang hanya mendisiplinkan tubuh.
  • Kesimpulan (K): Maka, semua barak militer adalah tempat yang dangkal dalam pendidikan.

Struktur penalaran di atas sangat valid karena mengikuti pola deduktif – silogisme kategoris:

Premis 1 (P1): ∀x (D(x) → T(x))

Premis 2 (P2): ∀x (B(x) → D(x))

Kesimpulan (∴): ∀x (B(x) → T(x))

di mana:
B(x)B(x) = x adalah barak militer
D(x)D(x) = x hanya mendisiplinkan tubuh
T(x)T(x) = x adalah tempat yang dangkal secara pendidikan

Logikanya sangat valid secara bentuk inferensial, tetapi silogisme ini tidak sahih (unsound) karena premis – premisnya tidak terbukti benar secara faktual maupun teoritis. Premis mayor menyamaratakan bahwa pendidikan fisik tidak mengandung nilai pendidikan intelektual atau moral (ini adalah non sequitur), sebab dalam banyak model pedagogi, pembentukan karakter melalui disiplin fisik justru dianggap bagian dari pendidikan holistik. Premis minor pun cacat karena menyempitkan fungsi barak secara tunggal sebagai ruang untuk mendisiplinkan tubuh saja.

Baca juga:   Gubernur Jabar Beri Santunan Rp25 Juta untuk Korban Longsor Cisarua

Penilaian

Pendekatan Michel Foucault terhadap disiplin tubuh dalam Discipline and Punish tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai institusi seperti barak, apalagi jika dikaitkan dengan program sosial seperti Gapura Panca Waluya yang dalam pelaksanaannya bisa melibatkan pelatihan nilai, kerja sama tim, dan penanaman kepemimpinan.

Saya membaca logikanya Rocky Gerung itu dangkal, argumentasinya bukan hanya mengandung premis yang lemah, tetapi juga jatuh pada beberapa bentuk fallacy. Pertama, hasty generalization, adalah menarik kesimpulan umum dari satu teori tunggal (Michel Foucault) tanpa konfirmasi empiris terhadap praktik aktual di lapangan. Kedua, false dilemma, yaitu menyajikan seolah ada dikotomi mutlak antara berpikir dan disiplin tubuh, padahal secara konseptual keduanya bisa disinergikan. Ketiga, terdapat straw man fallacy, yakni penyederhanaan ekstrem terhadap kebijakan menjadi sekadar ‘mengirim anak ke barak’, padahal program tersebut melibatkan mekanisme perizinan (orang tua siswa), pembinaan terstruktur, dan orientasi penguatan karakter, bukan represif-otoriter.

Apabila kurang mewakili, maka saya akan membaca logika Rocky Gerung dari sisi prinsip epistemik, alur berpikir seperti ini gagal memenuhi syarat rasionalitas karena tidak memenuhi prinsip korespondensi dengan fakta dan koherensi dengan kerangka logika yang utuh. Saya melihat apabila gaya berpikir seperti ini (Rocky Gerung) dijadikan model kritik publik, maka kritik tersebut cenderung bersifat impresionistik, bukan argumentatif dan lebih menekankan efek retoris daripada validitas logis. Dalam kerangka ini, cara berpikir Rocky Gerung dapat disebut sebagai contoh sesat pikir (fallacious reasoning) yang tidak layak dijadikan rujukan dalam perumusan kebijakan rasional.

Menguji Logika Kang Dedi Mulyadi (KDM)

‘Saya lebih memilih menjadi orang yang berpikiran dangkal, tetapi mampu menumbuhkan hamparan tanaman, daripada mengaku memiliki pemikiran yang dalam namun justru membuat banyak orang tenggelam.’ Sederhana namun bagi saya jawaban ini setidaknya meruntuhkan logiknya Rocky Gerung. Kalimat ini diucapkan Kang Dedi Mulyadi (KDM) sebagai responsnya ketika di kritik Rocky Gerung yang menilai pendekatan pengiriman anak – anak bermasalah ke barak militer sebagai bentuk pemikiran yang dangkal.

Kalimat sederhanya Kang Dedi Mulyadi (KDM) bukan sekadar jawaban, melainkan tindakan linguistik yang menggeser medan diskusi dari epistemologi struktural ke praksis sosial. Filsafat bahasa melihat respons ini sebagai bentuk pemahaman yang tajam atas language games sebagaimana diteorikan oleh Ludwig Wittgenstein. Logikanya Rocky Gerung berada di titik permainan bahasa akademik yang bertumpu pada kritik institusi kuasa ala Michel Foucault, sementara Kang Dedi Mulyadi (KDM) memilih permainan bahasa praksis yang bermakna dalam konteks kehidupan masyarakat (hamparan tanaman).

Speech act theory dari J.L. Austin sebenarnya sudah terlebihdahulu mewakili kalimat Kang Dedi Mulyadi (KDM), jauh sebelum kalimat ini di ungkapkan, jadi ada landasan filsafat bahasanya, yakni sebagai illocutionary act,  yakni tindakan ujar yang bukan hanya menyatakan, tetapi juga melakukan sesuatu secara sosial. Ia menempatkan dirinya sebagai subjek praksis yang produktif, bukan sekadar pemikir. Ini pun sejalan dengan hermeneutika simbolik Paul Ricoeur, di mana makna tidak hanya terletak pada bentuk literal, tetapi juga pada simbol dan metafora yang mengundang tafsir.

Rasionalitas Komunikatif

‘Hamparan tanaman’ menjadi simbol dari kebermanfaatan nyata, sedangkan ‘orang tenggelam’ adalah metafora bagi kerumitan intelektual yang menjauhkan diri dari publik. Berfilsafat hanya akan membuat orang merasa dirinya paling keras berfikir, paling aneh dalam berfikir, tetapi tidak menghasilkan apa – apa, padahal esensi filsafat adalah kebijaksanaan, dan tentunya cara berfikir seperti ini mengingkari filsafat itu sendiri, yang pekerjaannya adalah mencari kebijaksanaan.

Pragmatik sosial Jürgen Habermas melihat kalimat Kang Dedi Mulyadi (KDM) mencerminkan rasionalitas komunikatif, bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi membangun relasi sosial yang kooperatif. Berbeda dengan Rocky Gerung yang menggunakan bahasa secara strategis untuk membongkar struktur kuasa, Kang Dedi Mulyadi (KDM) menempatkan bahasa sebagai sarana menjalin pemahaman dalam dunia kehidupan (lifeworld). Hal ini diperkuat oleh pendekatan semiotik Umberto Eco yang menempatkan kekuatan makna dalam daya konotatif dan resonansi sosial dari simbol. ‘Hamparan tanaman’. Diksi yang sengaja atau / di pilih secara matang oleh Kang Dedi Mulyadi (KDM). Atau terucapkan secara spontan begitu saja, apapun bentuknya. Diksi ini lebih mudah menjangkau kesadaran publik dibandingkan wacana akademik yang elitis seperti kebanyakan filsafat yang digunakan oleh Rocky Gerung. Yang cenderung membuat semua orang adalah dungu di hadapan filsafatnya, tidak di hadapan filsafat sebenarnya.

Kang Dedi Mulyadi (KDM) menolak anggapan bahwa kedalaman intelektual adalah satu – satunya ukuran validitas pemikiran. Ia membela pendekatan yang berguna secara sosial, menyiratkan bahwa kebenaran tidak harus bersandar pada fondasi absolut. Tetapi dapat ditemukan dalam kebermanfaatan dan konteks percakapan. Artinya kalimat sederhana itu berhasil mengalihkan kritik menjadi pernyataan performatif yang memperkuat posisinya di tengah masyarakat. Ia menunjukkan bahwa dalam ruang publik, kekuatan bahasa tidak hanya terletak pada argumentasi logis (terukur). Tetapi juga pada kemampuannya menciptakan makna yang hidup dan berpihak pada realitas sosial (kebermaknaan).

Filsafat Rocky Gerung berada di ruang hampa

Dalam logika sosial yang sehat, anak-anak seperti ini sudah tidak bisa dibujuk. Dengan teori, filsafat, ajaran Yunani Kuno atau apapaun namanya. Buat apa jauh jauh menggunakan referensi barat untuk mengatasi anak – anak Jawa  Barat?, apalagi mendengarkan ceramah panjang dari Rocky Gerung. Yang mereka butuhkan adalah bukan ceramah filsafat, tetapi merekonstruksi struktur tubuh mereka akan berdisplin. Mereka perlu menanata ulang awal ritme hidup, pola pikir, rasa tanggung jawab. Dan itulah yang coba dibangun melalui pendekatan barak militer oleh Kang Dedi Mulyadi (KDM).

Rocky Gerung sedang membuat jebakan diri sendiri. Ia terjebak dalam reduksi, ia memadatkan seluruh fungsi barak militer hanya sebagai ruang pelatihan tubuh. Ini keliru, karena dalam konteks program ini, barak menjadi sarana pembiasaan hidup yang tertib, bukan tempat cuci otak. Mereka tetap diajak berpikir, tapi diawali dari tubuh yang diberi irama, waktu  bangun pagi yang teratur, diberi batas waktu. Michel Foucault tidak menolak itu, Ia bahkan menegaskan bahwa kekuasaan produktif bisa melahirkan manusia baru—yang lebih sadar, lebih utuh.

Logika Runtuh

Logika Rocky Gerung runtuh pada dua titik. Pertama, ia memakai Michel Foucault untuk menolak disiplin berpikir. Padahal Michel Foucault tidak menolak kekuasaan (Rocky Gerung lupa ada ide dalam Power and Knowledge). Ia hanya ingin kita jujur pada cara kerjanya. Kedua, Rocky Gerung menyamakan disiplin tubuh dengan pembunuhan akal. Padahal akal justru memerlukan tubuh yang tertata. Anak yang kacau, yang bangun siang, makan sembarangan (tidak tahu apa yang di makannya), dan hidup tanpa struktur. Yang dibutuhkan bukan berpikir kritis, ia sedang kehilangan arah, tujuan dan bahkan harapan untuk hidup di masa depan. Maka yang dibutuhkannya adalah disiplin, keteraturan tubuh.

Baca juga:   Daddy Rohanady: Segera Benahi BUMD Jawa Barat!

Jadi, pertanyaannya bukan ‘Apakah barak menindas?’ Melainkan: ‘Apakah barak bisa menjadi tempat awal untuk menyusun ulang hidup yang sudah berantakan?, Jika jawabannya ya, maka barak bukan penjara anak – anak, Ia adalah jeda, Ia adalah ruang pemulihan. Michel Foucault tidak melarang kita membentuk, ia hanya meminta agar kita tahu. Kenapa kita membentuk, dan untuk siapa bentuk itu dibuat.

Dari ‘Cageur’ ke Subjek: Bertemunya Filsafat Sunda & Michel Foucault

Saya orang Sunda bukan sebab saya lahir di teritorial Jawa Barat. Tetapi nilai dan pandangan hidup sejak kecil sudah ada di tanamkan nilai – nilai sunda (walaupun bukan Sunda Priangan yang terkenal halus). Apakah saya Sunda kasar?, tidak juga.

Ada namanya dalam ajaran Sunda yang dijadikan prinsip pembentukan manusia utuh. Yang diwariskan secara turun – temurun: cageur, bageur, bener, pinter, singer. Ini bukan sekadar daftar sifat, tetapi rangkaian tangga perkembangan diri. Dimulai dari tubuh yang sehat (cageur), menuju pada kebaikan hati (bageur), kelurusan tindakan (bener), kecerdasan akal (pinter). Hingga kepekaan rasa (singer).

Dalam laku budaya Sunda, cageur bukan hanya tidak sakit. Tapi menandakan tubuh yang bugar, tertib, dan menyatu dengan irama hidup yang teratur. Prinsip cageur adalah sesuatu yang tidak dapat di bantah dalam ajaran Sunda. Dan ternyata ajaran memiliki frekuensi yang kuat dalam pemikiran Michel Foucault. Ketika ia membahas bagaimana tubuh menjadi titik masuk kekuasaan dalam masyarakat modern.

Michel Foucault tidak mengecam kekuasaan sebagai musuh tunggal, melainkan menganalisisnya sebagai kekuatan yang produktif. Yang membentuk manusia bukan hanya lewat larangan, tetapi juga melalui pembiasaan, pengaturan waktu, ritme kerja, dan disiplin tubuh. Artinya Michel Foucault melihat bahwa tubuh yang dilatih dan tertib bukanlah tubuh yang tertindas. Melainkan tubuh yang disiapkan untuk menjadi subjek untuk berpikir, membentuk nalar yang kuat, bertindak, dan sadar akan dirinya sendiri.

Titik Temu

Inilah titik temu antara cageur dan Michel Foucault. Dalam logika lokal Sunda, tubuh yang sehat dan tertib adalah dasar dari kemampuan moral dan intelektual. Tubuh yang tidak teratur tidak bisa diajak menapaki jalan berpikir, karena akal butuh medium ragawi yang tertata. Sementara dalam pemikiran Michel Foucault, kekuasaan yang bekerja melalui tubuh (dengan disiplin, jam kerja, latihan fisik) bisa melahirkan individu modern. Yang sadar akan norma, yang paham batas, dan yang mampu membentuk dirinya sendiri.

Discipline ‘makes’ individuals; it is the specific technique of a power that regards individuals both as objects and as instruments of its exercise. (Discipline and Punish, hlm: 170). Kutipan ini menjelaskan bahwa disiplin bukan semata-mata teknik penindasan (konsep militersitik), melainkan alat pembentukan individu (pendisiplinan diri). Maka, barak militer atau ruang latihan fisik, jika dijalankan dengan prinsip pedagogis / etis. Maka dapat menjadi ruang transformatif, bukan represif. Ia dapat menjadi ‘barak cageur’, tempat di mana anak-anak yang kehilangan dari ritme hidup diberi kembali keteraturan. Mulai displin dari bangun pagi, makan tepat waktu, bergerak bersama, dan mendengar perintah bukan sebagai paksaan. Tetapi sebagai bentuk latihan irama sosial.

Power produces; it produces reality; it produces domains of objects and rituals of truth. (Discipline and Punish, hlm: 194). Maka dalam hal ini, cageur sebagai bentuk penataan tubuh. Melalui disiplin dapat dibaca sebagai praktik kekuasaan produktif yang menciptakan kembali realitas personal seseorang. Tubuh yang sehat bukan tujuan akhir, tetapi fondasi dari realitas baru, dari subjek yang sanggup berpikir, bertindak, dan bermoral. Tubuh yang cageur membuka jalan bagi akal yang pinter dan hati yang bageur.

Cageur

Pendapat yang menyamakan barak atau disiplin tubuh sebagai bentuk penjara pikiran. Tidak mengajak orang untuk berfikir seperti yang diucapkan Rocky Gerung merupakan bentuk reduksionisme. Yang luput menangkap kompleksitas kekuasaan dalam pikiran Michel Foucault. Sebab teorinya tidak menolak kekuasaan. Ia hanya ingin kita jujur pada cara kerjanya. Dan dalam konteks budaya lokal, cageur adalah cara kerja awal dari kekuasaan yang menyembuhkan, bukan menghukum.

Saya baca ulang teorinya Michel Foucault dan filsafat Sunda. Ternyata sejalan dalam satu keyakinan mendasar: bahwa tubuh bukan sekadar setumpuk daging yang harus diatur. Tetapi adalah medan awal pembentukan manusia sebagai subjek otonom dan bermartabat. Barak, dalam pembacaan ini, bukan kamp disiplin militer semata. Melainkan ruang pemulihan budaya, tempat di mana cageur dilatih, dan dari sana bageur, bener, pinter, dan singer bisa bertumbuh.

Kedunguan Rocky Gerung

Seakan – akan barak militer keras untuk siswa. Model-model militer yang sangat keras harus di terapkan ke siswa yang memiliki masalah. Rocky Gerung berasumsi bahwa tubuh yang ditertibkan tidak bisa berpikir bebas. Michel Foucault justru melihat hubungan antara tubuh, kekuasaan, dan pikiran sebagai suatu medan pembentukan identitas. ‘The soul is the prison of the body.’ (Discipline and Punish, hlm: 30).

Kutipan ini sering disalahpahami. Michel Foucault tidak sedang menolak ‘jiwa’, tetapi menggugat ilusi bahwa pikiran bebas dari struktur. Dalam dunia modern, pembentukan jiwa,  nilai, akal, moral kesemuanya justru beroperasi lewat tubuh. Bisa lewat kursi sekolah, baris – berbaris, latihan (barak militer), jadwal, dan ritme harian. Jika kita mengikuti logika Rocky Gerung, disiplin harus ditolak karena ia bekerja lewat tubuh. Tapi bagi Michel Foucault, justru karena disiplin bekerja lewat tubuh, ia bisa membentuk kesadaran yang nyata. Dan bukan utopia yang kabur.

‘Berpikir dangkal’ adalah bentuk penolakan Rocky Gerung terhadap kebijakan Kang Dedi Mulyadi (KDM). Alih – alih Rocky Gerung menolak barak secara total, pertanyaan yang lebih foucauldian adalah bagaimana barak itu dijalankan?. Apakah dengan pengawasan buta atau dengan pendampingan etis?, Apakah dengan hukuman mekanis atau dengan pembinaan reflektif? Where there is power, there is resistance. (The History of Sexuality, Vol. 1, hlm; 95).

Kalimat ini tidak bermakna bahwa semua kekuasaan harus dilawan, tapi kekuasaan selalu mengandung ruang untuk negosiasi dan perlawanan sadar. Termasuk dalam struktur disiplin. Maka, anak – anak yang masuk ke dalam barak tidak otomatis kehilangan martabat; mereka bisa tumbuh dalam disiplin jika ada ruang bagi mereka untuk menyuarakan diri.

Tetap Menolak

Rocky Gerung mengutip Michel Foucault untuk menolak barak militer dari kebijakan Kang Dedi Mulyadi (KDM). Seolah barak adalah penjara, dan penjara adalah akhir pemikiran. Tapi Michel Foucault sendiri telah membongkar logika biner semacam itu.

Ia tidak menolak disiplin dalam berpikir; ia hanya meminta kita membaca kekuasaan secara jernih, strategis, dan sadar. Power is everywhere; not because it embraces everything, but because it comes from everywhere. (The History of Sexuality, Vol. 1, hlm: 93). Barak bukan musuh.

Disiplin bukan penjara. Rocky Gerung lupa bahwa yang perlu ditolak adalah disiplin yang membungkam, bukan disiplin yang membentuk. Michel Foucault tidak pernah sekaku tafsir yang ditempelkan padanya. Jadi, saya curiga Rocky Gerung tidak benar – benar memahami Discipline and Punish dari Michel Foucault. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: barak militerGapura Panca Waluyagubernur jawa baratKang Dedi MulyadiKDMRocky Gerung


Related Posts

kecelakaan kereta bekasi timur
HEADLINE

Dedi Mulyadi Tanggung Biaya Korban Kecelakaan Kereta Bekasi Timur

28 April 2026
Masjid Raya Al Jabbar
HEADLINE

Dedi Mulyadi Jelaskan Anggaran Pemeliharaan Masjid Al Jabbar Rp22 Miliar

21 April 2026
harga elpiji naik
PASJABAR

Harga Elpiji Naik, KDM Ungkap Kearifan Lokal Bisa Jadi Alternatif

21 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.