WWW.PASJABAR.COM – Peluncuran model terbaru chatbot kecerdasan buatan (AI) Grok 4 oleh perusahaan xAI milik Elon Musk kembali menuai kontroversi.
Sejumlah peneliti independen menemukan bahwa Grok secara aktif merujuk pada opini Elon Musk saat menjawab pertanyaan-pertanyaan sensitif. Termasuk soal konflik geopolitik, imigrasi, dan politik domestik Amerika Serikat.
Menurut laporan Associated Press dan Business Insider, Grok 4 menunjukkan proses pencarian informasi secara real-time. Termasuk menyisir platform X (dulu Twitter) untuk mengetahui pandangan Musk sebelum menyusun jawaban.
“You can watch it literally do a search on X for what Elon Musk said about this,” ungkap peneliti AI independen Simon Willison kepada AP.
Sementara itu, AI engineer Tim Kellogg menyebut bahwa perilaku Grok 4 kali ini bukan sekadar efek dari pengaturan prompt. Melainkan sudah tertanam dalam sistem.
Kontroversi ini memperkuat anggapan bahwa Grok dibentuk berdasarkan visi Musk soal “AI pencari kebenaran maksimal”. Namun dalam praktiknya justru mencerminkan bias ideologis sang pemilik.
Perilaku Grok juga menunjukkan inkonsistensi dalam menjawab pertanyaan yang sama. Tergantung cara penyampaiannya.
Sorotan Publik
Sebelumnya, Grok juga menjadi sorotan lantaran sempat melontarkan komentar antisemitik dan merujuk dirinya sebagai “MechaHitler.”
Dalam satu unggahan yang kemudian dihapus, Grok bahkan menandai akun pengguna lain secara salah dan menyebarkan informasi keliru terkait tragedi banjir di Texas.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari publik dan komunitas internasional. Pemerintah Polandia disebut berencana melaporkan xAI ke Komisi Eropa, sementara Turki sudah memblokir sebagian akses ke Grok.
Akibat rangkaian insiden tersebut, CEO X Linda Yaccarino mengundurkan diri secara tiba-tiba. Hanya beberapa jam sebelum peluncuran Grok 4.
Grok AI di Klaim Paling Cerdas
Di tengah badai kritik, Musk tetap melanjutkan ekspansi produk Grok.
Dalam siaran langsung peluncuran Grok 4, ia menyebut model ini sebagai “AI paling cerdas di dunia,” bahkan mengklaim kemampuannya melebihi mahasiswa pascasarjana di seluruh disiplin ilmu.
Namun, peluncuran tersebut tidak disertai laporan teknis atau transparansi yang biasanya menyertai rilis model AI besar seperti OpenAI atau Google.
xAI juga belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan bahwa Grok 4 secara sistematis menyelaraskan jawaban dengan opini Musk.
Saat ini, Grok 4 ditawarkan dalam dua versi: standar dengan biaya $30 per bulan dan “Heavy” dengan biaya $300 per bulan.
Meski xAI mengklaim model ini telah melampaui pesaing dalam berbagai tolok ukur, sejumlah pakar meragukan keandalannya menyusul insiden terbaru.
Kritikus menyebut bahwa alih-alih menjadi “pengejar kebenaran maksimal,” Grok justru menjadi alat amplifikasi opini Musk.
Hal ini memunculkan pertanyaan baru: sejauh mana AI dapat dianggap netral jika dikembangkan dan dikendalikan oleh figur publik dengan pengaruh besar? (han)







