BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung berkolaborasi dengan Ikatan Alumni Sastra dan Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) serta platform literasi kuatbaca.com menggelar acara persembahan khusus bagi Jakob Sumardjo, tokoh filsafat, arkeologi, dan budaya Sunda yang dikenal sebagai salah satu intelektual terkemuka Indonesia.
Acara bertajuk “Jejak Mesin Tik Maestro Jakob Sumardjo” ini berlangsung pada 26–28 Agustus 2025 di Museum Kota Bandung, Jalan Aceh No. 47.
Karya-Karya Jakob Sumardjo
Selama tiga hari, pengunjung disuguhi pameran buku, jejak karya, serta perayaan pemikiran Jakob Sumardjo. Yang sepanjang hidupnya konsisten menulis dengan mesin tik.

Museum Kota Bandung menjadi ruang penghormatan bagi maestro literasi tersebut.
Jakob Sumardjo dikenal sebagai sastrawan, budayawan, dan akademisi yang pemikirannya memberi kontribusi besar. Bagi perkembangan ilmu filsafat, sastra, hingga kebudayaan Sunda.
Steering committee kegiatan, Hikmat Gumelar, menuturkan bahwa Jakob Sumardjo merupakan penulis produktif. Yang menelurkan sedikitnya 67 buku serta ratusan artikel, makalah, cerpen, dan puisi. Menariknya, seluruh karya itu ditulis menggunakan mesin tik.

“Sejak tahun 1969, Pak Jakob pertama kali menggunakan mesin tik milik mertuanya. Setahun kemudian, pada 1970, ia membeli mesin tik sendiri dari hasil honorarium tulisannya. Hingga kini, mesin tik itu masih digunakan dan tidak pernah diganti,” jelas Hikmat.
Menurutnya, keajegan Jakob menggunakan mesin tik merefleksikan ketekunan dan kesetiaan terhadap proses kreatif yang ia jalani.
Mesin tik itu pula yang menjadi saksi lahirnya berbagai gagasan penting. Termasuk selama 30 tahun terakhir ketika Jakob banyak mengeksplorasi dan menulis tentang kebudayaan Sunda.

“Dengan mesin tik itu, Pak Jakob menjadi seorang penulis dengan spektrum pemikiran yang luas. Sekaligus membangun warisan intelektual yang hingga kini masih relevan,” tambahnya.
Acara ini tidak hanya menghadirkan pameran benda-benda peninggalan Jakob Sumardjo, tetapi juga dirangkai dengan diskusi publik, pembacaan karya, serta forum refleksi untuk menghidupkan kembali gagasan dan pemikirannya.
Para akademisi, sastrawan, dan pegiat literasi turut hadir untuk memberikan testimoni serta berbagi pengalaman tentang peran Jakob dalam dunia pemikiran dan kebudayaan.

Dengan penyelenggaraan acara ini, Bandung tidak hanya mengenang seorang maestro literasi, tetapi juga mengajak masyarakat untuk menelusuri jejak intelektual Jakob.
Sekaligus memetik inspirasi dari dedikasi dan kerja kerasnya dalam memperkaya khazanah budaya Indonesia. (eci)






