CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Selasa, 12 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home PASNUSANTARA

Cinta, Tahta, dan Siklus Zaman dalam Diskusi Buku Cakra Manggilingan

Tiwi Kasavela
9 Januari 2026
Cinta, Tahta, dan Siklus Zaman dalam Diskusi Buku Cakra Manggilingan

Temu Sejarah kembali menggelar Diskusi Buku #97 dengan membedah novel Cakra Manggilingan: Sandhyakalaning Kahuripan karya Shenawangtri, Kamis (8/1/2026). (Ist)

Share on FacebookShare on Twitter

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Temu Sejarah kembali menggelar Diskusi Buku #97 dengan membedah novel Cakra Manggilingan: Sandhyakalaning Kahuripan karya Shenawangtri, Kamis (8/1/2026), melalui Zoom. Diskusi ini dimoderatori oleh Lisa Nurjanah dan diikuti peserta dari berbagai daerah.

Novel Cakra Manggilingan mengangkat latar runtuhnya Kerajaan Medang hingga bangkitnya Kerajaan Kahuripan di bawah kepemimpinan Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa. Dalam diskusi, sejarah tidak hanya dipahami sebagai peristiwa politik, tetapi juga sebagai ruang pergulatan manusia, antara cinta, kekuasaan, dan pilihan hidup.

Melalui tokoh Mahesa, Wira, dan Kirana, novel ini menghadirkan konflik cinta segitiga di tengah perang dan perebutan tahta. Dua saudara harus berdiri di panji kekuasaan yang berbeda, sementara Kirana terjebak di antara darah, batas wilayah, dan ambisi politik.

Baca juga:   Temu Sejarah Ajak Publik Menyongsong 100 Tahun Indonesia Lewat Diskusi Buku

“Saya ingin menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah hitam putih. Di balik perebutan tahta, selalu ada manusia dengan luka, cinta, dan dilema yang tidak sederhana,” ujar Shenawangtri dalam diskusi tersebut.

Ia juga menjelaskan filosofi judul Cakra Manggilingan yang berarti roda kehidupan yang terus berputar. Konsep ini merujuk pada pandangan masyarakat Jawa Kuno tentang waktu sebagai siklus.

“Dalam kepercayaan Jawa Kuno, hidup itu berputar. Ada masa jatuh, ada masa bangkit. Airlangga adalah contoh bagaimana kehancuran bukan akhir, tapi bagian dari perjalanan,” tambahnya.

Baca juga:   Film Hollywood Ini Tayang Saat Ramadhan

Moderator diskusi, Lisa Nurjanah, menekankan bahwa kekuatan novel ini terletak pada kemampuannya menjembatani sejarah dan sastra.
“Fiksi di sini tidak mengaburkan fakta, justru membantu pembaca merasakan emosi dan kompleksitas zamannya,” ungkap Lisa.

Diskusi juga membahas struktur novel, mulai dari alur maju, penokohan, setting waktu dan lokasi, hingga makna simbolik setiap bab, dari Mahapralaya hingga Lembayung. Fakta sejarah tentang pembagian Kerajaan Kahuripan menjadi Janggala dan Panjalu turut menjadi perhatian peserta sebagai konteks penting konflik cerita.

Baca juga:   Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kisah Tragis Apun Gencay dalam Sejarah Cianjur

Sejumlah nilai reflektif turut disoroti, di antaranya pentingnya keteguhan dalam menghadapi perubahan, peran support system, kesadaran bahwa kekuasaan tidak abadi, serta nilai spiritual dalam menghadapi masa sulit.

“Tanpa fiksi, sejarah hanya akan menjadi deretan fakta. Sastra memberi rasa, makna, dan membuat sejarah lebih dekat dengan manusia hari ini,” tutup Shenawangtri.

Melalui Diskusi Buku #97 ini, Temu Sejarah berupaya menghadirkan ruang dialog antara sejarah, sastra, dan refleksi kemanusiaan. Informasi kegiatan diskusi selanjutnya dapat diikuti melalui akun instagram @temusejarah. (tiwi)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Tiwi Kasavela
Tags: Cakra ManggilinganDiskusi BukuTemu Sejarah


Related Posts

Malia Nur Alifa: Menyingkap Tabir Lembang Melalui Kepingan Sejarah yang Terlupakan
PASBANDUNG

Malia Nur Alifa: Menyingkap Tabir Lembang Melalui Kepingan Sejarah yang Terlupakan

16 April 2026
Mengulik Bandung Awal Revolusi 1945–1946, Kisah Kota di Titik Genting Kemerdekaan
PASBANDUNG

Mengulik Bandung Awal Revolusi 1945–1946, Kisah Kota di Titik Genting Kemerdekaan

13 Maret 2026
Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kisah Tragis Apun Gencay dalam Sejarah Cianjur
PASJABAR

Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kisah Tragis Apun Gencay dalam Sejarah Cianjur

5 Maret 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.