DENPASAR, WWW.PASJABAR.COM— Di balik gemerlap lampu panggung dan riuh tepuk tangan penonton, ada proses panjang yang jarang terlihat. Bagi Dewy Uma, menjadi seorang MC profesional bukan hanya soal piawai berbicara, tetapi tentang menghargai setiap kesempatan yang datang—sekecil apa pun panggungnya.
Perempuan asal Bali ini mengawali kariernya dengan satu prinsip sederhana yang hingga kini masih ia pegang teguh: menghargai setiap panggung yang dipercayakan kepadanya.
“Baik panggung kecil atau besar, acara sederhana atau mewah, paid maupun non-paid, semuanya memberikan kesan, pengalaman, dan cerita berbeda untuk perjalanan karierku sebagai MC,” ungkapnya kepada PASJABAR, Sabtu (21/2/2026).
Baginya, tidak ada panggung yang terlalu kecil untuk ditolak atau terlalu besar untuk ditakuti. Setiap acara adalah ruang belajar. Dari sanalah jam terbang dan kepekaan sebagai pembawa acara terus terasah.
Pengalaman Dewy juga ditempa saat ia pernah menjadi penyiar radio. Dunia radio melatihnya untuk peka pada suasana, mengatur intonasi, dan tetap tenang dalam situasi tak terduga.
Ketika menghadapi kendala di hari-H acara, ia menyadari bahwa perubahan adalah hal yang tak bisa dihindari. “Walaupun sudah ada rundown dan briefing, perubahan pasti ada. Kuncinya tetap tenang, fokus, dan koordinasi yang baik dengan tim,” katanya.
Di tengah banyaknya MC dengan kemampuan public speaking yang mumpuni, Dewy justru menekankan satu hal yang menurutnya lebih penting dari sekadar teknik berbicara: attitude.
“Menurutku attitude atau adab lebih penting dari ilmu. Kalau kita punya sikap yang baik, peluang kerja sama akan selalu terbuka. Orang lain juga akan nyaman bekerja dengan kita,” tuturnya.
Baginya, profesionalisme tidak hanya diukur dari kefasihan merangkai kata, tetapi juga dari cara bersikap—menghormati klien, panitia, hingga kru di balik layar.
Untuk mereka yang baru ingin memulai langkah sebagai MC, Dewy punya pesan yang jujur dan membumi. Ia percaya tidak ada usaha yang sia-sia.
“Ambil setiap peluang yang ada dan kerjakan dengan sepenuh hati. Pasti ada hikmah dan manfaat yang bisa kita dapatkan atau kita bagikan kepada orang lain.”
Perjalanan Dewy Uma menjadi pengingat bahwa kesuksesan di atas panggung bukan hanya tentang sorotan lampu, melainkan tentang konsistensi, ketenangan, dan adab yang terus dijaga. Karena pada akhirnya, panggung terbaik adalah ketika kita mampu membawa diri dengan baik—di depan maupun di belakang layar. (tiwi)







