DEPOK, WWW.PASJABAR.COM– Bagi sebagian orang, berbicara di depan umum mungkin terasa alami. Namun bagi Tri Novia, yang dikenal dengan nama panggung Miss Via, perjalanan menuju dunia public speaking justru dimulai dari kepribadian yang sangat berbeda: introvert.
Perempuan kelahiran Bandar Lampung, 18 November 1994 ini mengaku sejak kecil hingga masa sekolah ia lebih banyak diam dan tidak terlalu nyaman berinteraksi dengan banyak orang.
“Saya sebenarnya orang yang sangat introvert. Dari kecil sampai SMP dan SMA saya termasuk pendiam,” ujarnya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika duduk di kelas satu SMA. Saat itu, seorang temannya mengajaknya mendaftar menjadi penyiar radio di Lampung. Awalnya ia hanya berniat menemani temannya, tanpa ekspektasi apa pun.
Tak disangka, justru dirinya yang diterima menjadi penyiar radio.
“Awalnya saya hanya menemani teman daftar. Tapi ternyata yang diterima justru saya, dan saat itu saya satu-satunya yang lolos,” katanya.
Pengalaman tersebut menjadi titik awal perjalanannya di dunia komunikasi. Pada 2009, ia mulai bekerja sebagai penyiar radio profesional yang dibayar per jam. Di ruang siaran itulah ia menemukan kenyamanan yang sebelumnya tidak ia rasakan ketika berbicara secara langsung dengan orang lain.
“Saya sebenarnya tidak terlalu nyaman berbicara tatap muka. Tapi saat siaran radio, saya sangat nyaman berbicara lewat udara atau melalui telepon dengan pendengar,” ujarnya.
Radio, menurutnya, menjadi ruang yang memberinya kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan yang selama ini jarang ia ungkapkan.
“Sepanjang hidup saya lebih banyak diam. Ketika ada wadah untuk berbicara di radio, rasanya seperti diberi kesempatan untuk mengungkapkan semua yang ada di kepala,” kata dia.
Dari situlah ketertarikannya terhadap dunia public speaking mulai tumbuh.
Perjalanan kariernya kemudian berkembang secara bertahap. Pada 2010, ia mulai dipercaya menjadi master of ceremony (MC) dalam berbagai acara, termasuk konser musik besar di Lampung yang menghadirkan band Shaggydog.
Pengalaman tersebut membuka lebih banyak kesempatan baginya untuk tampil di depan publik. Selain menjadi MC, ia juga aktif dalam berbagai organisasi sekolah dan mulai memimpin rapat serta acara berskala kota hingga provinsi.
“Dari situ saya mulai sadar bahwa ternyata saya punya suara yang cukup enak didengar dan kemampuan berbicara yang bisa terus dikembangkan,” ujarnya.
Kemampuan itu terus ia asah ketika melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia (UI). Di kampus tersebut, ia dikenal sebagai “MC abadi UI” karena kerap dipercaya memandu berbagai acara resmi kampus yang dihadiri pimpinan universitas.
Selain itu, ia juga bergabung dengan berbagai event organizer di Depok serta aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai bagian dari tim hubungan masyarakat.
Melalui berbagai pengalaman tersebut, ia terus melatih kemampuan komunikasinya secara langsung di lapangan.
“Saya benar-benar belajar dari pengalaman. Dari penyiar radio, kemudian MC, memimpin rapat, sampai mengelola event,” ujarnya.
Bahkan sebelum menyelesaikan kuliahnya, ia sudah mulai membangun bisnis di bidang event organizer, sekaligus tetap aktif sebagai MC.
Langkah berikutnya terjadi pada 2014, ketika ia mulai tampil sebagai narasumber seminar, khususnya dalam bidang kewirausahaan di Jakarta. Sejak saat itu, perannya berkembang menjadi coach, mentor, trainer, sekaligus konsultan di bidang komunikasi dan soft skill.
Kini, setelah lebih dari 17 tahun berkiprah sejak 2009, Miss Via telah membantu ratusan klien mengembangkan kemampuan komunikasi dan soft skill melalui berbagai pelatihan.
Melalui perjalanannya, ia ingin menunjukkan bahwa kemampuan public speaking bukanlah bakat yang hanya dimiliki oleh orang tertentu.
“Public speaking itu bukan sesuatu yang instan. Semua bisa dipelajari, asal mau mencoba dan terus melatih diri,” katanya. (tiwi)







