WWW.PASJABAR.COM — Juventus kini berada di ujung tanduk dalam perjalanan mereka di Liga Champions musim 2025/2026. Kekalahan telak 2-5 pada leg pertama di markas Galatasaray telah meninggalkan luka mendalam sekaligus tantangan yang nyaris mustahil untuk dilewati.
Namun, menjelang laga penentuan di Allianz Stadium pada Kamis (26/2/2026) dini hari WIB, aura optimisme mulai diembuskan oleh para pakar sepak bola Italia.
Keyakinan utamanya adalah satu: Juventus harus mampu mencetak gol cepat untuk meruntuhkan mentalitas wakil Turki tersebut.
Bencana Istanbul dan Defisit Tiga Gol
Kehancuran Juventus di leg pertama tidak lepas dari drama kartu merah yang diterima Juan Cabal pada menit ke-67.
Bermain dengan 10 orang di atmosfer “neraka” Istanbul membuat pertahanan pasukan Luciano Spalletti kocar-kacir, hingga akhirnya menyerah dengan skor mencolok 2-5.
Hasil ini memaksa Bianconeri harus menang dengan skor minimal 4-0 di waktu normal untuk bisa melaju ke babak 16 besar tanpa melalui babak tambahan waktu atau adu penalti.
Kondisi ini diperparah dengan performa Galatasaray yang sedang on-fire, terutama dengan keberadaan Victor Osimhen di lini depan.
Menghadapi tim yang memiliki predator haus gol seperti Osimhen tanpa kebobolan satu gol pun di kandang sendiri adalah tugas yang sangat berat bagi lini belakang Juventus yang belakangan ini kerap menunjukkan celah.
Strategi “20 Menit Pertama” ala Cesare Prandelli
Mantan pelatih Timnas Italia, Cesare Prandelli, memberikan analisis menarik terkait peluang mantan timnya tersebut.
Menurut Prandelli, kunci utama kebangkitan Juventus terletak pada efektivitas mereka di awal laga. Jika Juventus mampu unggul dalam 20 menit pertama, tekanan psikologis akan berpindah sepenuhnya ke pundak para pemain Galatasaray.
“Mencetak tiga atau empat gol melawan Osimhen dan rekan-rekan setimnya tanpa kebobolan akan sulit,” ujar Prandelli dalam wawancaranya dengan La Gazzetta dello Sport.
Namun, ia mengingatkan bahwa jika Galatasaray bisa mencetak tiga gol dalam satu babak di Istanbul, maka Juventus pun memiliki kemampuan teknis untuk melakukan hal yang sama di Turin. Momentum awal akan menjadi penentu apakah “keajaiban” tersebut bisa tercipta atau tidak.
Beban Sejarah dan Tekanan pada Luciano Spalletti
Laju Juventus di kompetisi Eropa dalam lima musim terakhir tergolong mengecewakan.
Si Nyonya Tua seolah kehilangan taringnya di panggung internasional, bahkan musim lalu mereka harus tersingkir di fase yang sama.
Hal ini memberikan beban tambahan bagi Luciano Spalletti. Publik Turin menuntut kembalinya martabat Juventus sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Eropa.
Kegagalan untuk membalikkan keadaan tidak hanya akan mengakhiri mimpi mereka di Liga Champions musim ini, tetapi juga memperpanjang catatan buruk klub di kompetisi kasta tertinggi Benua Biru tersebut.
Spalletti dituntut untuk meramu taktik yang agresif namun tetap disiplin untuk meredam serangan balik cepat Galatasaray yang dimotori oleh barisan gelandang kreatif mereka.
Faktor Psikologis dan Dukungan Allianz Stadium
Bermain di kandang sendiri menjadi satu-satunya keuntungan besar yang dimiliki Juventus saat ini.
Dukungan penuh dari para Juventini diharapkan mampu menciptakan atmosfer yang menekan bagi tim tamu.
Sepak bola sering kali menghadirkan drama yang tidak terduga, dan sejarah Liga Champions mencatat banyak tim yang mampu bangkit dari defisit tiga gol atau lebih.
Pertanyaannya kini, mampukah Juventus menjaga gawang mereka tetap bersih sambil terus menggempur pertahanan lawan selama 90 menit?
Jika skenario 20 menit pertama berhasil dijalankan, Allianz Stadium mungkin akan kembali menjadi saksi sejarah remontada epik klub kebanggaan warga Turin tersebut.
Statistik Menjelang Leg 2: Juventus vs Galatasaray
| Kategori | Catatan Leg 1 | Target Leg 2 |
| Skor | Galatasaray 5 – 2 Juventus | Juventus Menang min. 4-0 |
| Penguasaan Bola | 52% – 48% | Dominasi penuh mutlak |
| Pelanggaran Krusial | Kartu Merah Juan Cabal | Disiplin lini belakang |
| Pemain Kunci Lawan | Victor Osimhen | Redam transisi lawan |







