BEKASI, WWW.PASJABAR.COM – Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) kembali diterpa kabar miring. Selain kasus dugaan pelecehan seksual, muncul isu baru mengenai pemotongan bonus atlet yang mencapai angka fantastis, yakni 50 persen.
Reaksi Keras Yenny Wahid
Ketua Umum FPTI, Yenny Wahid, menyatakan keterkejutannya saat mendengar kabar tersebut di sela kegiatannya di Bekasi, Rabu (4/3). Ia menegaskan bahwa pemotongan tersebut sama sekali tidak diketahui oleh pihak federasi dan dilakukan di luar sepengetahuan pengurus pusat.
“Saya kaget sekali begitu mendengar ada pemotongan bonus 50 persen. Dan itu juga dilakukan oleh terduga pelaku (kasus pelecehan),” ungkap Yenny Wahid saat dikonfirmasi di Hotel Santika Harapan Indah.
Bantahan Aturan Federasi
Yenny Wahid memastikan bahwa tidak ada aturan resmi di dalam FPTI yang melegalkan pemotongan hak atlet tersebut. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa pengurus federasi selama ini berjuang keras agar para atlet mendapatkan bonus yang layak dari pemerintah.
Beberapa poin penting terkait dugaan ini antara lain:
-
Dalih Kesepakatan: Berdasarkan percakapan informal, pemotongan tersebut dilakukan dengan dalih “kesepakatan” di antara pihak terkait, namun hal ini di luar sepengetahuan FPTI.
-
Belum Ada Laporan Resmi: Hingga saat ini, pihak federasi baru menerima informasi secara informal dan belum ada pengaduan resmi dari atlet yang menjadi korban pemotongan.
-
Prioritas Kasus: Saat ini FPTI masih berfokus pada penyelesaian kasus pelecehan seksual, namun Yenny memastikan kasus bonus ini juga akan diseriusi.
Komitmen Pembenahan
Meski belum bisa memastikan sejak kapan praktik pemotongan bonus ini berlangsung, Yenny Wahid menjamin akan ada tindakan tegas ke depannya sebagai bagian dari proses pembenahan internal federasi.
Ia menekankan bahwa ekosistem panjat tebing Indonesia tidak boleh lagi dinodai oleh praktik-praktik yang merugikan kesejahteraan atlet.







