BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Sejumlah siswa penyandang disabilitas netra di Kota Bandung, Jawa Barat, mengisi waktu menjelang berbuka puasa dengan membaca Al-Qur’an Braille. Kegiatan tersebut berlangsung di SLBN A Pajajaran dan menjadi bagian dari program Pesantren Ekologi yang digelar selama bulan Ramadan.
Melalui kegiatan tadarus, para siswa disabilitas netra di Bandung ini tidak hanya memperdalam kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga meningkatkan literasi keagamaan serta kemandirian bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar merdu dari para siswa yang dengan penuh semangat membaca menggunakan mushaf Braille. Meski memiliki keterbatasan penglihatan, para siswa tampak fasih melafalkan ayat demi ayat Al-Qur’an dengan hafalan yang kuat.
Kegiatan membaca Al-Qur’an Braille tersebut juga menjadi aktivitas rutin selama bulan Ramadan bagi para siswa, khususnya untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Selain memperdalam pemahaman agama, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan karakter dan spiritual bagi para peserta didik.
Bagian dari Program Pesantren Ekologi
Pengajar di SLBN A Pajajaran, Sony Mulyana, mengatakan kegiatan membaca Al-Qur’an Braille merupakan bagian dari program Pesantren Ekologi yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan literasi keagamaan sekaligus membangun kemandirian siswa penyandang disabilitas.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari program pesantren ekologi untuk meningkatkan literasi keagamaan dan kemandirian siswa berkebutuhan khusus,” ujar Sony Mulyana.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut diikuti oleh 15 pelajar penyandang disabilitas netra yang belajar membaca dan memahami Al-Qur’an menggunakan huruf Braille.
Para siswa juga didorong untuk terus meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an meskipun memiliki keterbatasan penglihatan. Dengan bimbingan para pengajar, mereka diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri sekaligus memiliki pemahaman agama yang kuat.
Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap para siswa penyandang disabilitas netra dapat menjadi generasi yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Selain itu, kegiatan pesantren Ramadan tersebut juga menjadi ruang pembelajaran yang inklusif bagi siswa berkebutuhan khusus dalam memperdalam nilai-nilai keagamaan. (uby)





