BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Peluang menerbitkan buku terbuka bagi siapa saja, tetapi tidak semua naskah yang dikirim penulis dapat langsung diterima oleh penerbit. Penulis dan editor Nurlailah atau yang akrab disapa Lala, membagikan sejumlah kiat agar naskah memiliki peluang lebih besar untuk diterbitkan.
Menurut Lala, langkah pertama yang perlu dilakukan penulis adalah mengenali karakter penerbit yang dituju. Hal ini penting agar naskah yang dikirim sesuai dengan fokus buku yang biasa diterbitkan.
“Penulis perlu melihat katalog penerbit terlebih dahulu. Jangan sampai mengirimkan novel ke penerbit yang fokus menerbitkan buku pelajaran,” ujarnya kepada PASJABAR, Jum’at (6/3/2026).
Ia menilai pemilihan penerbit yang tepat dapat meningkatkan peluang naskah untuk dipertimbangkan oleh redaksi. Jika naskah berupa karya sastra, penulis disarankan mengirimkannya ke penerbit yang memang memiliki lini penerbitan sastra. Demikian pula jika naskah ditujukan untuk anak-anak.
Selain itu, penulis juga dianjurkan melakukan analisis terhadap buku-buku yang sedang populer di pasaran. Dengan memahami tren yang sedang berkembang, penulis dapat menghindari karya yang terasa ketinggalan zaman.
Meski demikian, Lala menekankan pentingnya menjaga keunikan karya. Penulis sebaiknya menonjolkan gaya bahasa khas serta ide yang berbeda dari karya yang sudah ada.
“Keunikan gaya bahasa dan sudut pandang menjadi nilai tambah yang dapat membuat naskah lebih menonjol,” katanya.
Ia juga menyarankan penulis melakukan riset pasar sebelum mengirimkan naskah. Penerbit umumnya mempertimbangkan potensi pembaca dan strategi promosi sebuah buku.
Di era digital saat ini, menurut Lala, personal branding juga menjadi faktor yang semakin diperhatikan penerbit. Penulis yang memiliki basis pembaca atau pengikut di media sosial dinilai lebih mudah mempromosikan karya mereka.
“Banyak penerbit mulai melihat potensi penulis yang memiliki komunitas atau pengikut yang cukup besar karena bisa ikut membantu memasarkan buku,” ujarnya.
Hal lain yang tak kalah penting adalah memperhatikan ketentuan teknis yang ditetapkan penerbit, seperti format penulisan, ukuran huruf, hingga jumlah halaman. Penulis juga disarankan mengirimkan naskah secara lengkap disertai sinopsis yang jelas.
Setelah naskah dikirim, penulis perlu bersabar menunggu proses evaluasi dari pihak penerbit. Jika naskah diterima dengan catatan revisi, penulis diharapkan bersedia memperbaikinya sesuai masukan editor.
Penolakan, lanjut Lala, juga sebaiknya tidak dianggap sebagai akhir dari proses berkarya. Ia menyarankan penulis menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik.
Selain itu, membangun komunikasi yang baik dengan editor atau redaktur juga dapat membuka peluang lebih luas bagi penulis.
“Jika hubungan profesional terjalin dengan baik dan nama penulis sudah dikenal, tidak menutup kemungkinan penerbit justru akan memesan naskah sesuai kebutuhan mereka,” katanya. (tiwi)







