WWW.PASJABAR.COM – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk atau emas Antam tercatat mengalami penurunan pada perdagangan Senin (16/3/2026).
Berdasarkan data dari Logam Mulia Antam, harga emas hari ini berada di level Rp2.992.000 per gram atau turun Rp5.000 dibandingkan harga pada Sabtu (14/3/2026).
Penurunan harga emas ini dipicu oleh penguatan Dolar Amerika Serikat serta kenaikan imbal hasil obligasi US Treasury yang membuat minat investor terhadap aset tanpa imbal hasil seperti emas berkurang.
Selain itu, lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah juga meningkatkan kekhawatiran inflasi sehingga memicu ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Berikut rincian harga emas Antam di Logam Mulia per Senin (16/3/2026):
-
0,5 gram: Rp1.546.000
-
1 gram: Rp2.992.000
-
2 gram: Rp5.924.000
-
3 gram: Rp8.861.000
-
5 gram: Rp14.735.000
-
10 gram: Rp29.415.000
-
25 gram: Rp73.412.000
-
50 gram: Rp146.745.000
-
100 gram: Rp293.412.000
-
250 gram: Rp733.265.000
-
500 gram: Rp1.466.320.000
-
1.000 gram: Rp2.932.600.000
Harga tersebut belum termasuk pajak PPh sebesar 0,25 persen untuk setiap pembelian emas batangan Antam.
Selain emas batangan, pembelian emas perhiasan atau emas dalam satuan suku juga cukup populer di masyarakat. Secara nasional, satu suku emas setara dengan 3,75 gram. Dengan harga emas Antam saat ini, nilai satu suku emas diperkirakan berada di kisaran Rp11.220.000.
Harga Emas Dunia Berfluktuasi
Pergerakan harga emas juga dipengaruhi dinamika pasar global. Berdasarkan data dari Yahoo Finance, harga emas batangan dunia sempat diperdagangkan di kisaran 5.000 dolar AS per ounce dan sempat terkoreksi sekitar satu persen sebelum kembali stabil.
Harga emas dunia saat ini berada di sekitar 5.022,02 dolar AS per ounce pada perdagangan di Singapura. Sementara itu, harga perak naik sekitar 0,8 persen menjadi 81,23 dolar AS per ounce.
Pergerakan harga emas global terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan itu memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama karena jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz dilaporkan mengalami gangguan aktivitas.
Ketidakpastian mengenai durasi konflik membuat pelaku pasar sulit memperkirakan dampaknya terhadap perekonomian global. Kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan berbagai komoditas, termasuk emas.
Meski sempat mengalami koreksi dalam jangka pendek, harga emas secara keseluruhan masih mencatat kenaikan sekitar 16 persen sejak awal tahun.
Sejumlah analis menilai ketidakpastian ekonomi global serta potensi stagflasi masih dapat mendorong investor menjadikan emas sebagai aset lindung nilai dalam jangka panjang. (han)







