
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Penelitian & Pengembangan Paguyuban Pasundan (Istilah Maqamat dan Hal (Ahwal), dalam buku Afeksi Islam)
WWW.PASJABAR.COM – Secara harfiah, istilah maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat berdiri. Dalam ilmu tasawuf, istilah ini dimaknai sebagai jalan atau tahapan yang harus ditempuh seorang sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah maqamat. Muhammad al-Kalabidzi menyebutkan ada sepuluh tahapan, yaitu at-taubah, az-zuhud, ash-shabr, al-faqr, at-tawadhu’, at-taqwa, at-tawakkal, ar-ridha, al-mahabbah, dan al-ma’rifah.
Sementara itu, Abu Nashr al-Saraj al-Tusi menyebutkan enam maqamat, yaitu at-taubah, al-wara’, az-zuhud, al-faqr, at-tawakkal, dan ar-ridha. Adapun Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulum al-Din menyebutkan tujuh maqamat, yaitu at-taubah, ash-shabr, az-zuhud, at-tawakkal, al-mahabbah, al-ma’rifah, dan ar-ridha.
Meski terdapat perbedaan, beberapa maqamat disepakati oleh para ulama sufi. Tahapan tersebut meliputi at-taubah, az-zuhud, al-wara’, al-faqr, ash-shabr, at-tawakkal, dan ar-ridha. Dalam praktiknya, beberapa konsep seperti at-tawadhu’, al-mahabbah, dan al-ma’rifah kadang dikategorikan sebagai maqamat, dan terkadang sebagai hal.
Perbedaan Maqamat dan Hal
Istilah hal secara harfiah berarti keadaan. Dalam tasawuf, hal merujuk pada kondisi mental yang dialami seorang sufi. Contohnya adalah rasa takut, gelisah, sedih, senang, dan bahagia.
Hal berbeda dengan maqamat. Maqamat diperoleh melalui usaha spiritual yang berkesinambungan. Sebaliknya, hal merupakan anugerah dari Allah yang hadir secara spontan.
Hal bersifat sementara dan dapat berubah-ubah. Sementara itu, maqamat cenderung menetap karena dicapai melalui latihan dan perjuangan spiritual.
Selain menempuh maqamat, seorang sufi juga melakukan latihan batin seperti riyadhah dan mujahadah. Riyadhah adalah latihan mental melalui ibadah, seperti dzikir dan tafakur, serta pembiasaan sifat-sifat terpuji.
Adapun mujahadah merupakan usaha sungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Melalui proses tersebut, seorang sufi diharapkan mencapai tujuan akhir tasawuf, yaitu ma’rifatullah. Konsep ini berkaitan dengan pencapaian insan kamil, yang oleh Muhammad Iqbal disebut sebagai manusia khudi. (han)






